Komponis Slamet Abdul Sjukur Meninggal Dunia di Surabaya - Kompas.com

Komponis Slamet Abdul Sjukur Meninggal Dunia di Surabaya

Kompas.com - 24/03/2015, 13:55 WIB
SURABAYA, KOMPAS.com — Komponis yang juga disebut pionir musik kontemporer Indonesia, Slamet Abdul Sjukur, telah tiada. Slamet meninggal dunia pada usia 79 tahun di Surabaya, Jawa Timur, pada Selasa (24/3/2015) pukul 06.00 WIB.

Kabar itu disampaikan oleh salah seorang murid Slamet, Gema Swaratyagita, dan tersebar ke publik, antara lain melalui media sosial. Gema menyebut, Slamet meninggal dunia di Graha Amerta RSUD Dr Soetomo, Surabaya, Selasa (24/3/2015) pukul 06.00 WIB. Ia menyebut pula, jenazah Slamet disemayamkan di rumah duka, Jalan Pirngadi Nomor 3, Surabaya.

Kabar duka itu juga diunggah oleh Swandayani Swan, anak dari pelukis ternama Surabaya, Tedja Suminar, pada akun Facebook-nya.

"Telah meninggal dunia, komponis Indonesia, Slamet Abdul Sjukur pukul 06.00 di RS Graha Amerta, beliau sampaikan terima kasih sebesar-besarnya terhadap seluruh murid, teman dan sahabat2nya atas seluruh dukungan dan persahabatan yang tulus selama ini. Mhn dimaafkan atas segala kesalahan dan kekhilafan beliau selama hidup. Smg almarhum tenang dan damai di sisiNya," tulis Swandayani.

Sehari sebelumnya, pada akun Twitter @SurabayaYouth, terpampang poster penggalangan dana yang dikelola oleh murid-murid Slamet, Gema Swaratyagita dan Jeanne Christine, untuk membantu Slamet menjalani operasi pangkal paha kanannya yang patah akibat terjatuh pada 9 Maret 2015 di Surabaya. Hingga mengembuskan napas terakhirnya, Slamet, yang dirawat di Graha Amerta sejak 9 Maret 2015, belum menjalani bedah tersebut.

Wikipedia mencatat, Slamet, yang lahir di Surabaya pada 30 Juni 1935, merupakan komponis Indonesia yang karya-karyanya banyak dinikmati di luar negeri, khususnya Eropa. Karya-karyanya yang terkenal adalah "Ketut Candu", "String Quartet I", "Silence", "Point Core", "Parentheses I-II-III-IV-V-VI", "Jakarta 450 Tahun", dan "Daun Pulus".

Slamet juga telah memenangkan sejumlah penghargaan, baik dari luar negeri maupun dalam negeri, karena dedikasinya di dunia musik. Penghargaan-penghargaan itu, antara lain, adalah medali perunggu dari Festival de Jeux d'Automne di Perancis (1974), piringan emas dari Académie Charles Cros di Perancis (1975) untuk karyanya yang berjudul "Angklung", dan medali Zoltan Kodaly dari Hongaria (1983).

Pada 2002, Slamet diangkat menjadi anggota Akademi Jakarta seumur hidup.


EditorAti Kamil

Close Ads X