Paduan Suara Anak Indonesia Jadi Juara di Italia

Kompas.com - 10/07/2016, 10:54 WIB
Penghargaan yang diraih paduan suara anak dari Indonesia, Resonanz Children's Choir, dalam kompetisi paduan suara  Claudio Monteverdi Choral Festival and Competition di Venezia, Italia, Sabtu (9/7/2016). Facebook/Resonanz Children's ChoirPenghargaan yang diraih paduan suara anak dari Indonesia, Resonanz Children's Choir, dalam kompetisi paduan suara Claudio Monteverdi Choral Festival and Competition di Venezia, Italia, Sabtu (9/7/2016).
EditorKistyarini

KOMPAS.com - Paduan suara anak Indonesia, The Resonanz Children's Choir (TRCC),  berhasil menjadi juara umum (Winner of Grand Prix) dalam Claudio Monteverdi International Choral Festival and Competition di kota Venezia, Italia pada tanggal 7-10 July 2016.

Dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Minggu (10/7/2016), project manager TRCC Dani Dumadi, mengungkapkan, paduan suara anak itu berkompetisi dalam kategori Children and Youth Choir. Mereka dipimpin konduktor Devi Fransisca.

Dalam final yang digelar pada Sabtu (9/7/2016), TRCC mengenakan busana bernuasa Papua.

"Mereka membawakan dua lagu. Yakni lagu Papua 'Yamko Rambe Yamko' yang diaransemen Agustinus Bambang Jusana, dan lagu 'Táncnóta' karya komposer Hungaria Zoltán Kodály," kata Dian.

Dalam video yang diunggah di Facebook oleh Metta Dharmasaputra, TRCC memang tampil atraktif ketika membawakan lagu "Yamko Rambe Yamko" dengan iringan tifa, alat musik pukul dari Indonesia Timur.

Mengenakan baju serba hijau, mereka tidak hanya menyanyi, tetapi juga menampilkan koreografi yang dinamis. Mereka bergerak memenuhi seluruh area panggung.

Tangan mereka tidak pernah berhenti, sementara kaki mereka menghentak. Badan mereka meliuk mengikuti irama rancak musik khas Papua.

Dalam babak semifinal, mereka membawakan empat lagu yaitu "Der Wassermann" karya Robert Schumann, "Salve Regina" karya Javier Busto, serta dua lagu karya Fero Aldiansya yaitu "137 Hip Street" dan lagu Aceh "Bungong Jeumpa".

“Dengan berbalut kostum bernuansa Aceh, paduan suara berkekuatan 42 anak ini mampu memukau juri serta para hadirin yang memadati ruangan Auditorium Santa Margherita. Hal tersebut nampak dari riuh  tepukan serta standing ovation yang diberikan," tutur Dani.

Para juri pun kemudian meloloskan TRCC ke babak final  melawan keempat finalis dari kategori lainnya yaitu kategori Adult’s Choir dan kategori Sacred Music.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X