Dua Hari Lagi, "Setan Jawa" Pentas di Australia

Kompas.com - 22/02/2017, 17:02 WIB
|
EditorIrfan Maullana

,

JAKARTA, KOMPAS.com - Setan Jawa, film hitam putih pertama sutradara kenamaan Garin Nugroho yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, akan membuka world premier-nya pada Opening Night of Asia Pacific Triennial of Performing Arts di Melbourne, Australia pada 24 Februari 2017.

Sebelumnya, Setan Jawa sukses 'menggentayangi' penonton Indonesia pada pemutarannya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada September 2016 yang lalu.

Pada pementasan ini, film hitam putih ini akan diiringi komposisi asli orkestra gamelan Indonesia karya Rahayu Supanggah, seorang seniman musik yang telah dan masih memperkenalkan dan mempopulerkan musik gamelan Jawa ke masyarakat dunia selama lebih dari 40 tahun.

Orkestra gamelan ini akan dibawakan secara langsung di depan layar dengan 20 pengrawit (pemusik gamelan) yang berkolaborasi dengan Melbourne Symphony Orchestra, orkestra simfoni tertua di Australia dengan konduktor Iain Grandage yang telah meraih beragam penghargaan.

"Setan Jawa merupakan proyek kolaborasi antara Garin Nugroho dan Rahayu Supanggah, seniman Indonesia yang konsisten memopulerkan musik gamelan Jawa ke masyarakat dunia selama lebih dari 40 tahun," tulis Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Komposisi orkestra gamelan yang diciptakan oleh Rahayu mampu memberikan sentuhan tradisional dan menghasilkan pertunjukan modern yang memiliki jiwa dan nilai-nilai estetika yang bersumber dari kekayaan budaya Indonesia.

"Kesuksesan Setan Jawa yang dipentaskan di Jakarta tahun lalu ternyata juga menarik atensi dari luar negeri. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk memperkenalkan musik tradisional Indonesia kepada masyarakat dunia," ujar Renitasari.

Setan Jawa akan dipentaskan di gedung Melbourne Art Centre, Australia dengan kapasitas 2.664 penonton. Film bisu hitam putih yang mengangkat mitologi Jawa ini juga menandai dedikasi Garin yang telah berkarya selama 35 tahun di industri film.

Film yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini  dalam film tari kontemporer yang terinspirasi film bisu hitam putih Nosferatu (1922) dan Metropolis (1927). Film ini juga membawa kenangan masa kecil Garin Nugroho di Yogyakarta yang dipenuhi pesona pertunjukan wayang kulit yang diiringi oleh gamelan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.