Cornelia Agatha, Lakon Pelacur, dan Kepahitan Hidup

Kompas.com - 23/02/2017, 19:25 WIB
Cornelia Agatha diabadikan di Balai Latihan Kesenian Jakarta, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2017). KOMPAS.com/Tri Susanto SetiawanCornelia Agatha diabadikan di Balai Latihan Kesenian Jakarta, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2017).
|
EditorIrfan Maullana

JAKARTA, KOMPAS.com - Artis peran Cornelia Agatha memainkan lakon pelacur dalam pementasan Teater Koma berjudul Opera Ikan Asin. Kata perempuan yang akrab disapa Lia itu, kisah kepahitan kehidup yang ia angkat lewat perannya.

"Sama sebagai Yeyen. Saya perankan seorang pelacur. Tapi yang menarik bukan sisi sensualitas, tapi kepahitan hidupnya," ujar Lia saat jumpa pers di Balai Latihan Kesenian Jakarta, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2017).

Tidak ada masalah bagi Lia untuk memerankan karakter tersebut. Ia bahkan pernah memerankan berbagai macam karakter, mulai dari hantu, raksasa, putri, dan ratu pada pementasan teater.

"Kalau sekarang pelacur bukan pecicilan yang mengubah sensulitas. Tapi, gimana saya bisa menampilkan sosok Yeyen secara mahal," kata dia.

Lia butuh waktu dua bulan untuk 'melalap' porsi latihan peran yang diberikan. Ia menghabiskan waktu sejak pagi hingga malam.

Tidak hanya berakting, Lia juga dituntut untuk bernyanyi. Menurut dia, bernyanyi untuk teater berbeda dari nyanyian pada umumnya.

"Saya latihan dua bulanan. Saya bawain empat lagu. Yang susah itu lagu 'Akulah Yeyen'. Dari bangun tidur sampai di mobil saya nyanyi terus. Sampai orang disekitar saya hapal. Lagu itu bercerita dan panjang. Kalau salah satu lirik aja akan berubah," ujarnya.

Pementasan Opera Ikan Asin akan digelar di Ciputra Artpreneur, Lotte Shopping Avenue, Jakarta Selatan, pada 2 hingga 5 Maret 2017. Pementasan itu digelar untuk merayakan 40 tahun Teater Koma berdiri.

Cerita Opera Ikan Asin merupakan produksi 147 Teater Koma. Ceritanya disadur dari lakon karya Bertolt Brecht dengan komposisi musik dari Kurt Weill yang kemudian diadaptasi oleh sutradara Nano Riantiarno. Latar peristiwa yang sesungguhnya adalah abad ke-19 di London, digeser pada abad ke-20 di Batavia, tepatnya di zaman Hindia Belanda.

Sederet pemain yang terlibat dalam pementasan itu adalah Budi Ros, Cornelia Agatha, Sari Madjid Prianggoro, Alex Fatahillah, Asmin Timbil, Raheli Dharmawan, dan beberapa pemain lainnya.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X