"Machine Messiah", Raungan Kencang Sepultura

Kompas.com - 26/02/2017, 13:00 WIB
|
EditorAmir Sodikin

KOMPAS — Jika di sepak bola Brasil punya tim "samba" yang kiprahnya mendunia, maka di musik, mereka punya Sepultura. Band beraliran thrash metal ini menjadi salah satu band yang paling dikenal oleh para penggemar musik ingar bingar di seluruh penjuru dunia.

Sepultura yang dibentuk di Belo Horizonte pada 1984 ini mengawali tahun 2017 dengan merilis album studio ke-14 bertitel Machine Messiah.

Para fans Sepultura perlu menunggu empat tahun untuk dapat menikmati album baru Sepultura. Terakhir, mereka merilis album The Mediator Between Head and Hands Must Be the Heart pada 2013.

Meskipun secara konsep album terbilang bagus, album The Mediator tidak mendapatkan respons istimewa dari para penggemarnya. Pencinta Sepultura mulai jenuh dengan sajian yang itu-itu saja.

Belajar dari The Mediator, Sepultura merasa perlu membuat album baru yang berbeda. Melalui album Machine Messiah, Sepultura yang digawangi oleh Andreas Kisser (gitar), Paulo Jr (bas), Derrick Green (vokal), dan Eloy Casagrande (drum) mencoba membangun kembali kepercayaan penggemar yang selalu mencintai raungan kencang musik khas Sepultura.

Machine Messiah tampil cukup segar. Melalui album ini, Sepultura mencoba membedah kembali gaya musik mereka.

Meski demikian, fondasi musik yang mereka usung sejak awal tetap dipertahankan. Gitaris Andreas Kisser menyebut bahwa Machine Messiah adalah sebuah bab baru bagi para personel Sepultura.

Setiap personel berupaya untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dan meleburkan dalam harmonisasi musik.

"Saya sangat senang dengan semuanya (album Machine Messiah). Sepultura tetap tampil sebagai Sepultura, tetapi dengan visi yang baru dan lebih dalam. Ini adalah sebuah tantangan dalam bermusik," ujar Andreas Kisser.

Konsep album Machine Messiah adalah sebuah respons terhadap kondisi dunia yang kian beralih mendewakan mesin. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan dengan jiwa kian memudar dan hilang.

Semua menjadi robot dan bergerak berdasarkan dengan kendali mesin. Jika nanti akan ada juru selamat, dia pun akan berbentuk robot tanpa nurani.

Album Machine Messiah dibuka dengan lagu yang berjudul sama, "Machine Messiah". Lagu ini diawali dengan musik yang pelan dengan nuansa gaung dalam sebuah gedung.

Derrick Green bernyanyi dengan nada rendah. Suasana yang terbangun adalah mirip adegan saat pemimpin memberikan doktrin kepada rakyatnya.

Kondisi kelam, suram, dan gelap, ini lambat laun menjadi pecah ketika Sepultura meneruskan lagu ini dengan irama yang sangat mereka kuasai, yaitu kencang dan meledak-ledak.

Sepultura sangat mengeksplorasi karakter suara Derrick Green di album ini. Vokalis "impor" dari Amerika Serikat ini cukup bagus saat melantunkan lagu-lagu bergenre thrash metal, yaitu bernyanyi dengan berteriak, bertempo cepat, dan karakter suara berat dengan menahan suara di sisi luar kerongkongan.

Di beberapa lagu, Derrick bernyanyi lebih lepas dan menurunkan temponya sehingga suara asli Derrick muncul. Ternyata, suara Derrick sangat cocok di karakter lagu yang bergenre heavy metal.

Machine Messiah tidak melulu menyajikan musik kencang. Sepultura cukup berhasil membangun sebuah komposisi album yang menawarkan variasi musik yang lumayan nyaman untuk didengarkan hingga selesai.

Di album ini, Sepultura memasukkan beberapa instrumen yang jarang dipakai di musik thrash metal, yaitu antara lain kibor dan gitar klasik.

Lagu "Phantom Self" justru menjadi hidup dengan selipan-selipan suara kibor. Bunyi kibor ini membangun nuansa klasik futuristik yang membingkai lagu tersebut.

Secara keseluruhan, lagu-lagu di album ini cukup enak untuk didengarkan. Bahkan, penggemar musik yang tidak terlalu suka dengan genre thrash metal bisa dengan cepat menikmati album ini.

Lagu "Iceberg Dance" bisa dikatakan sebagai lagu terbaik di album Machine Messiah. Musik instrumen berdurasi 4 menit 41 detik ini adalah nyawa dari Sepultura. Sebuah kerja kolektif personel Sepultura yang menciptakan harmonisasi musik yang membuat pendengar terbang ke dunia lain.

Jika tim samba Brasil menyematkan lima bintang di kostum untuk menunjukkan bahwa mereka telah lima kali meraih Piala Dunia, untuk kreativitas dan konsep album yang bagus, empat bintang layak disematkan untuk album Machine Messiah. (Sepultura.com.br/Yuniadhi Agung)

Artikel ini telah tayang di harian Kompas, edisi Minggu (26/2/2017) halaman: 24, berjudul "Raungan Kencang Sepultura". Anda juga bisa mengunjungi versi daringnya, klik di sini

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.