Martin Aleida Raih Penghargaan Cerpen Pilihan Kompas 2016

Kompas.com - 15/06/2017, 22:05 WIB
Acara bertema Jamuan Malam Cerpen Kompas 2017 digelar di Ruang Serba Guna Bentara Budaya Jakarta (BBJ), di Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (15/6/2017) malam. Sastrawan Martin Aleida berhasil menyabet penghargaan Cerpen Terbaik Kompas lewat karyanya yang berjudul Tanah Air, yang dimuat Harian Kompas pada 19 Juni 2016. KOMPAS.com/TRI SUSANTO SETIAWANAcara bertema Jamuan Malam Cerpen Kompas 2017 digelar di Ruang Serba Guna Bentara Budaya Jakarta (BBJ), di Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (15/6/2017) malam. Sastrawan Martin Aleida berhasil menyabet penghargaan Cerpen Terbaik Kompas lewat karyanya yang berjudul Tanah Air, yang dimuat Harian Kompas pada 19 Juni 2016.
|
EditorIrfan Maullana

JAKARTA, KOMPAS.com - Penganugerahan Cerpen Pilihan Kompas kembali diadakan dalam rangka memperingati ulang tahun Harian Kompas ke-52. Ada kandidat 20 cerpenis yang karyanya telah dimuat di Harian Kompas pada 2016.

Acara bertema Jamuan Malam Cerpen Kompas 2017 itu digelar di Ruang Serba Guna Bentara Budaya Jakarta (BBJ), di Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (15/6/2017) malam.

Acara dibuka oleh Ketua Panitia Sarie Febriane sedangkan pengumuman pemenang dibacakan langsung oleh Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo.

Sastrawan Martin Aleida diumumkan berhasil meraih penghargaan Cerpen Pilihan Kompas lewat karyanya yang berjudul "Tanah Air", yang dimuat Harian Kompas pada 19 Juni 2016.

"Peraih penghargaan cerpen terbaik Kompas adalah 'Tanah Air' karya Martin Aleida," ujar Budiman sebelum memberikan piala penghargaan kepada Martin, yang berada di belakangnya berjejer bersama 19 kandidat lainnya.

Sambil memeluk piala itu Martin mengatakan bahwa penghargaan yang diberikan sudah ia prediksi sebelumnya.

"Saya tidak menunggu juga untuk dapat ini. Sebab biar saya jelek begini, saya selalu terpilih, selalu dapat yang terbaik," kata Martin dalam canda di atas panggung.

"Hanya satu yang saya ingin katakan dalam kaitannya dengan cerpen ini, bahwa sastra pada umumnya, secara khusus cerita pendek, dia membebaskan," kata dia.

Martin mengungkapkan bahwa ia melakukan riset selama tiga bulan pada awal 2016 lalu untuk mendapatkan materi tulisan cerpen "Tanah Air". Ia mengangkat kisah para eksil di Eropa, yakni di Prancis, Belanda, Jerman, Bulgaria, Ceko.

"Pekerjaan menjadi berat karena ini cita-cita orang gila," kata dia.

Selain Martin, Harian Kompas juga memberikan satu penghargaan kepada cerpenis Triyanto Triwikromo. Ia meraih Penghargaan Kesetiaan Berkarya yang diberikan oleh Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Ninuk Mardiana Pambudy.

Adapun ke-19 kandidat lainnya adalah Agus Noor, Ahmad Tohari, Budi Darma, Damhuri Muhammad, Faisal Oddang, Fanny J Poyk, Gde Aryantha Soethama, Gerson Poyk, Han Gagas, I Putu Supartika, Made Adnyana Ole, Mashdar Zainal, Muna Masyari, Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, Sori Siregar, Sungging Raga, Supartika, Triyanto Triwikromo, dan Zaidinoor.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X