Mensos Duet Bareng Kaka di Konser Slank

Kompas.com - 18/09/2017, 11:47 WIB
Mensos Khofifah Indar Parawansa dan Kaka Slank nyanyi bareng di Mojokerto KemensosMensos Khofifah Indar Parawansa dan Kaka Slank nyanyi bareng di Mojokerto
Penulis Jodhi Yudono
|
EditorJodhi Yudono

MOJOKERTO, KOMPAS.com--Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengaku senang dan antusias pertama kali ini bernyanyi bersama Slank dalam sebuah konser musik.

Pada konser bertajuk Silaturahmi Merajut Kebangsaan yang berlangsung di Pondok Pesantren Ammanatul Ummah, Pacet, Kabupaten Mojokerto, Minggu malam (17/9), Kaka sang vokalis Slank mendaulat Mensos menyanyikan lagi Ku Tak Bisa.

Ratusan santri dan slankers ikut menyanyi sepanjang perempuan kelahiran Surabaya itu menyenandungkan lagu. Di panggung kecil yang tak berjarak dengan penonton itu Khofifah melambaikan tangan pada ratusan Slankers yang datang dari Mojokerto, Malang, Pandaan, Lamongan, Pasuruan, Tuban, Lumajang, Brebes dan berbagai kota lainnya.  

"Ini baru pertama kalinya saya sepanggung menyanyi bersama Slank. Kebetulan ini memang lagu favorit saya. Ku Tak Bisa dan Terlalu Manis. Itu yang sering saya nyanyikan ," ujar Khofifah seraya tersenyum.

Khofifah yang tampak anggun dalam balutan gamis hitam denga aksen manik-manik merah dan jilbab warna senada tampak larut dalam lagu. Usai menyanyi, tak lupa ia menyampaikan pesan-pesan kebangsaan.

"Mari kita bangun toleransi di tengah perbedaan. Saling rangkul bukan saling memukul. Kita semua bersaudara maka jangan saling memecah belah. Jaga negeri ini, ukir prestasi dan harumkan nama bangsa," ujar Mensos.

Bersama Kaka, Khofifah kemudian mengajak seluruh santri dan Slankers menyanyikan lagu Ya Ahlal Wathon.

Lagu yang diciptakan Kyai Wahab Hasbulloh pada tahun 1916 ini menggema di tanah lapang di samping ponpes. Lautan santri berbaju putih dan peci putih menyanyi dengan khidmat sambil mengepalkan tangan kanan mereka ke atas.

"Lagu tersebut memiliki syair semangat kebangsaan sangat luar biasa. Coba simak liriknya 'Pusaka Hati Wahai Tanah Airku, Cintaku dalam Imanku. Jangan Halangkan Nasibmu. Bangkitlah Hai Bangsaku'," ujarnya bersemangat.

Khofifah mengungkapkan nasionalisme dan cinta tanah air penting ditanamkan kembali kepada anak bangsa. Maraknya gerakan radikal, isu berkedok agama namun bertujuan memecah-belah persatuan bangsa, bahaya miras, narkoba, pornografi dan lain-lain harus ditangkal dengan pendekatan-pendekatan yang kreatif.

Salah satunya seperti konser Slank yang merupakan gagasan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP). Konser ini bertujuan membangun penguatan nasionalisme dan kebangsaan melalui musik. Apalagi, lanjutnya, sebelum konser berlangsung anak-anak muda ini juga diberikan pemahaman dan wawasan kebangsaan.

"Sosialisasi kebangsaan dan  kebhinekaan melalui musik ini merupakan formula tepat untuk segmen anak muda. Mereka bisa bergembira menonton konsernya, sambil mereka bisa menyerap pesan kebangsaannya. Ini sangat menarik dan tidak membosankan," tuturnya.   (*)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X