Lewat Pengabdi Setan, Joko Anwar Ingin Naikkan Kelas Film Horor

Kompas.com - 11/10/2017, 09:18 WIB
Sutradara Joko Anwar berpose dalam sesi foto seusai wawancara di Rapi Films, Cikini, Jakarta, Kamis (28/9/2017). Joko Anwar menyutradarai film Pengabdi Setan yang mulai tayang di bioskop pada hari ini. Film Pengabdi Setan adalah remake dari film berjudul sama yang tayang pada 1980-an. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESSutradara Joko Anwar berpose dalam sesi foto seusai wawancara di Rapi Films, Cikini, Jakarta, Kamis (28/9/2017). Joko Anwar menyutradarai film Pengabdi Setan yang mulai tayang di bioskop pada hari ini. Film Pengabdi Setan adalah remake dari film berjudul sama yang tayang pada 1980-an.
|
EditorKistyarini

JAKARTA, KOMPAS.com- Sutradara film Joko Anwar mengungkapkan tujuannya membuat film Pengabdi Setan untuk mengangkat derajat film horor ke tempat yang lebih terhormat.

Hal itu ia ungkapkan saat dijumpai setelah peluncuran offical trailer dan poster film My Generation di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, Selasa (10/10/2017).

"Salah satu tujuan kami membuat Pengabdi Setan adalah untuk meningkatkan genre horor di Indonesia yang selama ini dianggap kelas dua," kata Joko.

Joko menambahkan jika dibuat dengan serius, film horor bisa menjadi roda penggerak industri film Indonesia.

"Tetapi selama ini kan dibikin asal-asalan, teknisnya jelek, estetikanya juga jelek," ucap Joko.

"Sehingga aku pengin Pengabdi Setan dengan harapan bisa mengangkat film horor Indonesia ke tempat yang terhormat," lanjutnya.

Terbukti, film genre horor Pengabdi Setan masuk nominasi dalam 13 kategori Festival Film Indonesia (FFI) 2017. Salah satunya adalah pada kategori film terbaik.

[Baca juga: Berkenalan dengan Kelam Malam, Soundtrack Seram Pengabdi Setan]

"Alhamdulilah untuk pertama kalinya film horor di Indonesia mendapat nominasi film terbaik. Sepanjang sejarah, baru Pengabdi Setan, ya. Berarti apresiasi untuk itu sudah ada kan, bahwa film horor sudah kembali ke tempat terhormat," imbuhnya.

Joko pun tidak pernah menyangka film garapannya bisa mendapat 13 nominasi pada ajang FFI 2017.

[Baca juga: Kartini dan Pengabdi Setan Mendominasi FFI 2017]

"Kami tidak ada perkiraan. Kami bikin sebaik baiknya aja. Ya alhamdulillah," kata Joko.

Selain dianggap berkualitas dengan mendapat 13 Piala Citra, film Pengabdi Setan juga sukses secara komersial.

Ditayangkan di bioskop sejak 28 September lalu, film tersebut sudah ditonton lebih dari 2 juta penonton per 10 Oktober kemarin.

[Baca juga: 13 Hari Tayang, Pengabdi Setan Tembus 2 Juta Lebih Penonton]



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X