Butet Kartaredjasa: Infrastruktur Seni Pertunjukan Indonesia Bikin Saya Jadi Superman

Kompas.com - 12/02/2018, 17:52 WIB
(Kiri ke kanan) Jeannie Park, Butet Kertaredjasa, dan Garin Nugroho saat jumpa pers Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan di GEOKS Art Space, Bali, Minggu (11/2/2018). Kompas.com/Ira Gita(Kiri ke kanan) Jeannie Park, Butet Kertaredjasa, dan Garin Nugroho saat jumpa pers Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan di GEOKS Art Space, Bali, Minggu (11/2/2018).

DENPASAR, KOMPAS.com- Aktor dan seniman Butet Kartaredjasa mengatakan, bahwa infrastruktur seni pertunjukan di Indonesia membuatnya menjadi seorang Superman. Namun, Butet justru merasa bersyukur akan itu.

Hal tersebut dikatakan Butet saat jumpa pers Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan di GEOKS Art Space, Bali, Denpasar, Minggu (11/2/2018).

"Ada yang perlu disyukuri dengan infrastruktur seni pertunjukan Indonesia yang enggak beres-beres itu, yang disyukuri itu, dalam situasi semacam itu maka terpaksa lahir Superman-Superman," kata Butet.

Pasalnya, sebagai seorang aktor dalam sebuah seni pertunjukan, Butet harus menangani banyak hal di luar urusan proses kreatif. Hal itu yang membuat Butet merasa seperti Superman.

[Baca juga : Butet Kartaredjasa: Sarekat Ngobong Kalori ]

"Saya itu kan ngimpinya jadi aktor, aktivitas saya di produk kreatif sebagai pemain. Tapi seorang aktor itu juga tugasnnya ngurusin konsumsi, ngurusin perizinan, tiket, pajak," ucap Butet.

"Jadi manusia-manusia Indonesia dipaksa jadi superman dan saya terpaksa melakukan itu, karena infrastruktur yang tidak memungkinkan," sambungnya.

Namun pengalaman-pengalaman yang dialami Butet, memberinya banyak pelajaran tentang ilmu yang cocok diterapkan di seni pertunjukan Indonesia.

"Dan atas dasar itulah akhirnya saya syukuri, saya di dalam perjalanan yang penuh sandungan itu justru menemukan pengetahuan-pengetahuan baru yang lebih cocok untuk diaplikasikan di Indonesia," ujar bintang film Petualangan Sherina itu.

"Sebab kalau saya belajarnya dari teori-teori, belajar dari buku manajemen seni pertunjukan luar itu termasuk dari Korea, itu berhenti sebagai teori yang tidak mungkin diaplikasikan di Indonesia, karena di Indonesia lain secara kultur," imbuhnya.

Butet pun membagikan pengalamannya itu kepada 40 peserta Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan yang digelar oleh sutradara Garin Nugroho dan Bakti Budaya Foundation, Senin (12/2/2018) di GEOKS Art Space.

[Baca juga : Butet Kartaredjasa: Kampanye Boleh, tetapi Tetap Jenaka]

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X