We Ar(t)e Here, Pameran Lukisan di Tembi - Kompas.com

We Ar(t)e Here, Pameran Lukisan di Tembi

Kompas.com - 28/05/2018, 19:35 WIB
Lukisan Negeri Tanah Emas karya Anang PrasetyoAnang Prasetyo Lukisan Negeri Tanah Emas karya Anang Prasetyo

JAKARTA, KOMPAS.com--Dua belas perupa tiga wilayah kultural (Jakarta-Yogya-Surabaya) memamerkan karyanya di galeri Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta, 1-7 Juni 2018.

Pameran bertajuk “We Ar{t}e Here” ini buah kerja dari jaringan yang mereka bangun untuk terus-menerus mendialogkan proses kreatif dan pemikiran segar dalam menjawab riuh rendah wacana dan paradigma kesenirupaan saat ini.

“Sesungguhnya pameran ini ibarat kami memasuki medan tempur kesenirupaan yang tak bertepi. Tanpa batas,” kata Eiwand Suryo, salah satu pesert pameran.

Mereka tidak ingin terjebak dalam pusaran dominasi katagori dan paradigma. Ke-12 perupa itu, Anang Prasetya (Tulungagung), Aam Artbrow (Gresik), Basuki Ratna Kurniawan (Madiun), Faried (Bekasi), Bowo Purwadi (Yogya), Edy Kuken (Yogya), Sarjana (Yogya), Hidayah Wachi (Thaliland), Itta Ernawati (Yogya), Pramudya Ananta Pasa (Surabaya), Eiwand Suryo (Yogya), Subeki (Gresik). Setelah Yogya mereka akan pamerkan karyanya di Jakarta dan Surabaya.

Pameran akan dibuka oleh Purwadmadi, seorang wartawan senior dan pekerja budaya yang tekun. Sebagai pekerja budaya Pur, demikian panggilannya, mempunyai perhatian yang seriur terhadap seni rupa. Selain itu Purwadmadi sudah menulis beberaopa novel dan kumpulan puisi, baik yang ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa.

Anang Prasetyo, salah seorang perupa yang ikut pameran ini menyampaikan, pergulatan di wilayah pemikiran menghasilan wacana, paradigma. Pemikiran yang berlandaskan worldview tertentu, akhirnya mewujud meluas dan mendalam. Sementara disisi lain, dialektika di wilayah jiwa menghasilkan endapan-endapan karya.

“Dengan proses tertentu, mediumisasi pemikiran dan perasaan di jiwa yang beragam, akhirnya imajinasi tersebut, dalam konteks kesenirupaan, menjadi sesuatu karya yang visualistik nan estetik” ujar Anang Prasetyo.

Menurut Purwadmdi, perupa yang berasal dari kota berbeda, bahkan ada satu perupa dari Thailand. Bukan hanya sekedar berinteraksi secara fisik, melainkan dari segi karya masing-masing saling bersinergi.

“Interaksi karya dari masing-masing perupa dari kota yang berbeda, menunjukan bahwa masing-masing perupa dari daerahnya terus berkarya, dan mereka bertemu melalui karya” kata Purwadmadi.

Purwadmadi menyampaikan garis-garis dan warna dari masing-masing perupa yang pameran, memberikan nuanasa yang bereda, dan pilihan aliran yang tidak saya, ini kalau kita melihat dari perspektif aliran.

“Namun sesungguhnya, melihat karya rupa sekarang tidak haruas merujuk aliran pada pasa lalu, sehingga kita menyebutnya sebagai abstrak, dekorarof dan setersunya. Bagi saya ekspresi dari perupa-perupa muda ini menandakan gairah berkaryanya sangat besar, dan karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil dari gairah itu” ujar Purwadmadi. (*)


Close Ads X