Jamuan Cerpen Kompas, Ajang Apresiasi Cerpenis Empat Generasi - Kompas.com

Jamuan Cerpen Kompas, Ajang Apresiasi Cerpenis Empat Generasi

Kompas.com - 27/06/2018, 18:09 WIB
Buku Cerpen Pilihan Kompas 2016, Tanah Air. Kompas/M Hilmi Faiq Buku Cerpen Pilihan Kompas 2016, Tanah Air.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai bentuk apresiasi terhadap karya sastra, terutama cerita pendek, harian Kompas kembali menggelar Jamuan Cerpen Kompas. Acara yang akan berlangsung di Bentara Budaya Jakarta pada Kamis, 28 Juni 2018 malam, merupakan penghargaan terhadap cerita pendek atau cerpen yang terbit di Kompas selama tahun 2017.

Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Budiman Tanuredjo, di Jakarta, Rabu (27/6/2018), mengatakan, acara Jamuan Cerpen Kompas merupakan ikhtiar untuk memberi apresiasi terhadap para penulis cerpen.

“Cerpen koran, khususnya Kompas, merupakan kontribusi kami untuk dunia sastra. Acara jamuan digelar bersamaan dengan ulang tahun ke-53 harian Kompas,” kata Budiman.

Tahun ini ada 21 cerpenis yang karyanya terpilih dalam Cerpen Pilihan Kompas 2017. Mereka berasal dari sejumlah kota di Indonesia.

Karya mereka telah diseleksi oleh tim juri internal dan dibukukan, seperti yang telah berlangsung sejak acara ini mulai digelar tahun 1992. 

Ketua Tim Juri Cerpen Pilihan Kompas 2017, Putu Fajar Arcana, mengatakan, ada yang istimewa dalam penyelenggaraan tahun ini karena para cerpenis yang terpilih berasal dari empat generasi.

“Ada Sori Siregar, Budi Darma, Martin Aleida, Ahmad Tohari, dan Putu Wijaya sebagai pengarang generasi pertama yang telah berusia di atas 70 tahun. Generasi kedua ada nama Gde Aryantha Soethama, Indra Tranggono, Radhar Panca Dahana, Agus Noor, dan Triyanto Triwikromo," kata Putu.

"Nama Made Adnyana Ole, Farizal Sikumbang, dan Djenar Maesa Ayu merupakan generasi ketiga. Adapun generasi keempat ada Faisal Oddang, Miranda Seftiana, Muna Masyari, Supartika, Wisnu Sumarwan, dan Rika,” lanjut Putu.

Fakta ini, kata Putu, setidaknya menunjukkan regenerasi para pengarang Indonesia berjalan dan justru dicatat oleh koran.

“Dulu, sastra koran dianggap sebagai kelas pinggiran, tetapi kini menjadi pencatat sejarah sastra yang tidak banyak lagi dilakukan lembaga formal seperti universitas. Di sini, Kompas sebagai koran publik menunjukkan perannya dalam usaha mendorong pengembangan dunia literasi di Tanah Air,” ujar Putu.

Ketua Panitia Jamuan Cerpen Kompas 2017, Sri Rejeki, mengungkapkan acara tahun ini akan menghadirkan Teater Mandiri yang menginterpretasikan Cerpen Terbaik dalam pertunjukan teater yang disutradarai Putu Wijaya.

“Selain itu, tampil pula kelompok musik Dialog Dini Hari yang akan memeriahkan acara,” katanya.

Sri menambahkan, tahun ini Kelas Cerpen Kompas juga kembali digelar. Lebih dari 100 orang telah mengirimkan karya cerpennya untuk diseleksi pada kelas yang berlangsung pada 28-29 Juni 2018 di Menara Kompas, Jakarta.

“Kelas Cerpen Kompas merupakan upaya menjaring bibit-bibit baru cerpenis dan membantu mereka yang ingin mengembangkan minat dan bakatnya di dunia sastra melalui cerpen,” tuturnya.

Mereka belajar dalam tiga kelompok dipandu mentor para cerpenis kawakan, seperti Martin Aleida, Ahmad Tohari, Agus Noor, Linda Christanty, Triyanto Triwikromo, dan Dewi Ria Utari.


Komentar
Close Ads X