Pameran Lukis Cat Air di Bentara Budaya Solo - Kompas.com

Pameran Lukis Cat Air di Bentara Budaya Solo

Kompas.com - 17/07/2018, 13:18 WIB
Pameran Nasional IV ?Cinta Warna Nusantara?Dok. Bentara Budaya Solo Pameran Nasional IV ?Cinta Warna Nusantara?

SURAKARTA, KOMPAS.com--Komunitas Lukis Cat Air Indonesia yang lahir pada tahun 2012 ini maki eksis dan bersemangat mengadakan kegiatan pameran lukisan cat air di Indonesia.

Karya cat air yang tadinya termarginalkan, kini sudah mulai terangkat dan akrab hadir di keseharian maupun tampil di atas pentas dunia seni rupa Indonesia. Demi menjaga semangat ini KOLCAI berkomitmen mewadahi seluruh pecinta seni cat air di seluruh Indonesia untuk selalu mengadakan kegiatan yang bisa mengalirkan energi positif.

Di Tahun ini Komunitas Lukis Cat Air Indonesia (KOLCAI) menggelar pameran nasional ke  IV Cinta Warna Nusantara yang bertempat di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo, Surakarta, berlangsung tanggal 14 Juli hinga 20 Juli 2018.

Pameran Nasional yang dibuka oleh oleh Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo ini, merupakan agenda rutin Komunitas Lukis Cat Air Indonesia yang sebelumnya sudah digelar tiga kali.

Pameran nasional perdana pada tahun 2013 diselenggarakan di Roemah Sarasvati, Bandung.  Dilanjutkan Pamnas ke dua, penyelenggaraan di Bali pada tahun 2014 bertempat di Bentara Budaya, Bali. Kemudian pada tahun 2016 digelar di Gallery Griya Santrian.

Pameran Nasional IV Komunitas Lukis Cat Air Indonesia kali ini akan menampilkan lebih dari 90 karya buah cipta dari 92 pelukis cat air dari seluruh  daerah di indonesia dan 2 pelukis cat air Asia yang mengangkat  tema “Cinta Warna Nusantara” yang merupakan ikhtiar budaya yang dijiwai oleh spirit penghormatan atas perbedaan dan pemuliaan nilai-nilai keragaman.

Tema ini diniatkan sebagai perayaan atas keragaman ekspresi seni rupa khususnya cat air yang merangkum berbagai sumber khasanah tradisi budaya Indonesia yang multikultural.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, multikulturalisme yang memiliki akar sejarah panjang sejalan dengan realitas plural, baik perspektif etnis, tradisi, bahasa, seni, kepercayaan, dan sederet pilar lainnya.

Jalinan sejarah ini menghidupkan memori kultural dan turut membentuk identitas kebangsaan yang dirajut dari tali “Bhinneka Tunggal Ika”. Multikulturalisme adalah kesadaran “lintas” mengatasi “situasi batas” yang tercipta oleh kepentingan primodialisme. Dengan kesadaran ini kita akan menembus batas cakrawala menempatkan Indonesia sebagai bangsa besar di tengah kancah pergaulan global, di mana warna dari Nusantara adalah sebuah keniscayaan. Wujud pluralisme Warna Nusantara telah "mengejawantah" tertuang mengalir cair sebagai sajian setiap jiwa, menghantar pada tujuan damai dan bahagia.


Komentar
Close Ads X