Tampil di Samosir Music International 2018, Musisi Mancaneara Akan Bawakan Lagu Batak - Kompas.com

Tampil di Samosir Music International 2018, Musisi Mancaneara Akan Bawakan Lagu Batak

Kompas.com - 26/07/2018, 20:18 WIB
Musisi Eropa yang akan bermain di Samosir Music International 2018 di Tuktuk Siadong, Kabupaten Samosir, Rabu (25/7/2018).KOMPAS.com/Tigor Munthe Musisi Eropa yang akan bermain di Samosir Music International 2018 di Tuktuk Siadong, Kabupaten Samosir, Rabu (25/7/2018).

SAMOSIR, KOMPAS.com - Sejumlah musisi dan penyanyi dari Eropa dan Tanah Air akan mementaskan lagu-lagu Batak dalam ajang Samosir Music International (SMI) di Tuktuk Siadong, Kabupaten Samosir pada 25 Agustus 2018.

Manager konser ini, Henry Manik dalam keterangannya menyebut, kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang digelar sejak tahun 2014. Acara ini adalah bagian dari Horas Samosir Fiesta yang digelar Pemerintah Kabupaten Samosir.

"Dari tahun ke tahun, pengunjung event ini sangat banyak, bahkan menjadi salah satu event terbesar di sekitar Danau Toba, yang pengunjungnya terbanyak," ungkap Henry, Rabu (25/7/2018).

Dia menyebut, ini salah satu pencapaian dan terobosan baru untuk sebuah event bertaraf internasional di Kabupaten Samosir. Dampaknya bisa dirasakan langsung masyarakat di kawasan Danau Toba yang merupakan salah satu destinasi wisata nasional.

"Oleh karena itulah, Pemkab Samosir melihat ini suatu event yang strategis, yang mampu mendatangkan banyak orang sehingga diagendakan menjadi event tahunan dan tetap," kata Henry.

Daya tarik festival ini, kata Henry, adalah setiap musisi dan penyanyi, baik dari Eropa maupun Indonesia wajib membawakan lagu-lagu Batak. Dengan begitu setiap orang yang terlibat membutuhkan persiapan lama, khusus dalam mempelajari lagu-lagu Batak.  

"Keunikan konsep ini merupakan salah satu nilai tarik buat banyak orang untuk hadir menyaksikan aksi panggung para musisi dan artis," terang pria yang kini bermukim di Belanda ini.

Konsep event, secara otomatis mengangkat nilai Habatakon dan lebih diperkenalkan ke dunia lewat jalur musik.

"Kita ingin menunjukkan, bahwa lagu Batak itu sangat indah dan fleksibel. Bisa digubah ke segala genre musik yang ada. Tentu, nilai promosi daerah sangat terkandung juga di dalamnya. Event ini memberi dampak positif ke banyak hal," Henry menjelaskan.

Adapun sejumlah musisi yang terlibat, di antaranya Hermann Delago, Nadine Beiler, JB'S Band, ketiganya dari Austria.

JB’S Band, kata Henry, adalah band anak muda, yang setiap anggotanya berlatar belakang pendidikan musik dari conservatorium. Band itu juga sudah menggelar berbagai pertunjukan di Eropa.

Pada penampilannya nanti, JB's Band akan menambahkan unsur flute dalam aransemen musik mereka.

Musisi keturunan Jepang-Austria Kento Friesacher, yang biasanya meniup seruling India atau seruling klasik, juga terlibat dan akan memainkan seruling Batak yakni sulim. Henry mengatakan ia sudah mengirim satu set serulang Batak untuk dipelajari.

Sementara itu drummer JB's Band juga akan memainkan gondang Batak. Ia sudah berlatih selama beberapa bulan terakhir. Nantinya ia akan berkolaborasi dengan artis dan pencipta lagu Batak, Tongam Sirait.

Musisi lain yang akan tampil dalam festival musik Batak ini adalah Bernadeta Astari (Belanda) serta Ken Lila Ashanty, violis kelahiran Jakarta yang kini bermukim di Swiss. Mereka akan berkolaborasi dengan pianis asal Jakarta, Yoshephine Madju.

Tak ketinggalan, Viky Sianipar, Alsant Nababan, Louis Sitanggang dan grup musik dari pinggiran Danau Toba, Jajabi Band.

"Persiapan even ini sudah tergolong rampung, hanya masih terus mencari dukungan ke banyak pihak, mengingat masih minimnya pendanaan yang bisa dikelola," ungkap Henry.

"Apalagi daerah ini telah menjadi salah satu daerah prioritas dari pusat, sehingga sangatlah wajar jika event seperti ini bisa mendapat perhatian yang benar dan serius agar bisa selalu berkelanjutan," tandasnya.


Komentar
Close Ads X