Penyair Asal Bengkulu Sabet Penghargaan Puisi Terbaik

Kompas.com - 30/07/2018, 13:26 WIB
Penulis Jodhi Yudono
|

JAKARTA, KOMPAS.com--Willy Ana (37), penyair asal Bengkulu, meraih penghargaan puisi Terbaik ”Anugerah Sastra Litera” 2018 lewat karya puisi ”Petuah Kampung”.

Penghargaan diserahkan pada Malam Anugerah Sastera Litera 2018 di Resto Kampung Anggrek, Jalan Raya Victor, Buaran, Serpong, Tangerang Selatan, Jumat, 27 Juli 2018 malam.

Malam itu, Willy Ana mendapatkan trofi, sertifikat, buku dan sejumlah uang tunai yang diserahkan langsung oleh Pimpinan Litera.co.id, Ahmadun Yosi Herfanda.

Willy Ana lahir di Bengkulu Selatan, 29 September 1981. Ia adalah penyair produktif asal Bengkulu yang berdomisili di Jakarta. Buku puisinya adalah “Aku Berhak Bahagia” (2016), “Tabot: Aku Bengkulu” dan “Petuah Kampung” (2017). Baru-baru ini ia bersama kawan-kawannya sukses mengadakan Festival Sastra Bengkulu, pada 13-15 Juli 2018. Ia adalah penggagas sekaligus ketua panitia festival sastra bertaraf nasional itu.

Selain Willy Ana, ada pula sejumlah nama penyair dan cerpenis lainnya yang menjadi unggulan dalam acara tersebut seperti puisi Kampung Kita karya Setia Naka Andrian, Ruang Belakang karya Iman Sembada, Mobil Tua yang Resah karya Surya Gemilang.

Sedangkan untuk kategori cerpen, penghargaan cerpen terbaik jatuh kepada cerpen berjudul “Monolog di Penjara” karya Armin Bell. Disusul oleh cerpen unggulan berjudul Menjadi Burung Merpati karya Muhammad Gotansyah, Tetes Diorama Terakhir karya Nufira S, dan Mencari Marlin Lain yang Pernah Memakan Bunga karya Fatah Anshori.

Pimpinan Redaksi Litera.co.di, Ahmadun Yosi Herfanda mengatakan, Anugerah Sastera Litera 2018 adalah agenda tahunan yang diselenggarakan pihaknya dibawah Yayasan Master Kreativa Indonesia bekerja sama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation.

“Ajang tahunan sebagai bentuk apresiasi pada penulis puisi dan cerpen. Karena litera belum bisa memberi honorarium yang memadai bagi mereka, ajang anugerah ini sebagai gantinya,” kata dia.

Puisi Willy Ana dinilai pantas menerima penghargaan Anugerah Sastera Litera 2018 sebab membicarakan kerinduan yang begitu kuat dari ibu kepada anaknya. Selain itu, puisi ini juga sangat erat dengan berbagai konflik yang dirasakan oleh anak rantau.

“Ya kaget. Senang. Bersyukur. Puisi itu terpilih sebagai puisi terbaik Anugerah Sastera Litera 2018. Padahal, malah saya berharap tahun lalu dapat penghargaan ini. Eh, rupanya malah tahun ini,” kata Willy Ana.

Halaman:



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.