Paul McCartney Terinspirasi Taylor Swift dan Donald Trump

Kompas.com - 14/09/2018, 08:27 WIB
Sir Paul McCartney tampil dalam konser One on One di Hollywood Casino Amphitheatre, Tinley Park, Illinois, pada 26 Juli 2017. AFP PHOTO / Kamil KrzaczynskiSir Paul McCartney tampil dalam konser One on One di Hollywood Casino Amphitheatre, Tinley Park, Illinois, pada 26 Juli 2017.
Penulis Ati Kamil
|
Editor Ati Kamil

LONDON, KOMPAS.com -- Pemusik legendaris Paul McCartney (76) mengungkapkan bagaimana penyanyi AS Taylor Swift dan Presiden AS Donald Trump menjadi sumber inspirasi untuk albumnya, tetapi dengan cara yang berbeda satu dari lainnya.

Jumat minggu lalu (7/9/2018), ikon dari band legendaris The Beatles ini merilis Egypt Station, album ke-18 yang direkamnya di studio.

Ternyata, penciptaan lagu "Who Cares" dalam album itu terinspirasi oleh hubungan dekat Taylor Swift dengan para penggemar mudanya.

Baca juga: Paul McCartney Gelar Konser Gratis, Bisa Ditonton di YouTube

"Saya benar-benar memikirkan Taylor Swift dan hubungannya dengan para penggemar mudanya dan bagaimana itu terjalin bagai persaudaraan," tuturnya kepada BBC.

"Dan, saya membayangkan berbicara dengan salah satu penggemar muda ini dan berkata, 'Pernahkah Anda di-bully? Apakah Anda di-bully?'" sambungnya.

"Lalu saya mengatakan, 'Siapa peduli tentang orang-orang bodoh ini? Siapa peduli tentang semua ini? Siapa peduli tentang Anda? Well… saya peduli'," tuturnya pula.

Baca juga: Paul McCartney Unggah Foto Rekaman Album Terbaru di Abbey Road Studios

Album Egypt Station juga menghadirkan "Despite Repeated Warnings", lagu yang merupakan serangan berapi-api terhadap mereka yang menyangkal perubahan iklim.

Paul McCartney mengaku bahwa lagu tersebut terinspirasi oleh Donald Trump sesudah ia mengumumkan rencana-rencana untuk AS menarik diri dari Paris Agreement (Persetujuan Paris) mengenai perubahan iklim.

Baca juga: Paul McCartney Kembali Berangkulan dengan Capitol Records

"Orang-orang yang menyangkal perubahan iklim... Saya hanya berpikir itu merupakan hal paling bodoh yang pernah ada," ucap McCartney.

"Jadi, saya ingin mencipta sebuah lagu yang berbicara tentang itu dan terutama mengatakan, 'Ada kalanya, kita memiliki seorang kapten edan yang menjadi nakoda untuk kapal yang kita semua tumpangi dan ia membawa kita ke gunung es, padahal sudah diperingatkan bahwa itu bukan sebuah gagasan yang baik'," ucapnya.

Ketika ditanya apakah lagu tersebut ditujukan kepada seseorang tertentu, Paul McCartney menjawab, "Jelas itu Trump, tetapi banyak yang demikian. Ia bukan satu-satunya."



Sumber NME.com
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X