Tujuh Tahun Sastra Bulan Purnama, Puisi di ‘Rumah Kita’

Kompas.com - 19/09/2018, 04:37 WIB
Novi Indratusti TembiNovi Indratusti
Penulis Jodhi Yudono
|

JAKARTA, KOMPAS.com--Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan setiap bulan kini telah memasuki usia tujuh tahun, dan akan diisi peluncuran antologi puisi yang diberi judul ‘Rumah Kita’, Selasa, 25 September 2018, pkl. 19.30 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Antologi puisi ini menampilkan lebih dari 20 penyair yang tinggal di beberapa kota, bahkan ada yang tinggal di luar Jawa.

Beberapa penyair yang puisinya masuk dalam antologi puisi ‘Rumah Kita’, pernah tampil membaca puisi karyanya di Sastra Bulan Purnama, seperti Ahmadun Yosi Herfanda, Bambang Widiatmoko, Novi Indrastuti, Yuliani Kukudaswari, Ristia Herdiana, Daruz Armedia, Daffa Randai.

Penyair yang ikut dalam antologi puisi ‘Rumah Kita’ ini sebelumnya telah mengirim puisi dan ditayangkan melalui media online sastrapurnama.com, yang kemudian diterbitkan menjadi buku puisi. Selain menulis puisi di sastrapurnama.com para pennyair ini juga mengirimkan puisinya di media lain dan puisi2nya pernah diterbitkan dalam antologi bersama maupun antologi tunggal.

Selain akan tampil para penyair membacakan puisi, ada juga pertunjukan musik, yang akan dimainkan oleh group Al Fine dan Sanggar Lincak. Tidak ketinggalan, Doni Onfire akan menggarap puisi karya Ristia Herdiana dan Yuliani Kumudaswari, dan akan ditampilkan pembaca tamu Novi Ananda.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama mengatakan, selama 7 tahun Sastra Bulan Purnama, dan diselenggarakan tiap bulan purnama telah menampilkan banyak penyair dari berbagai kota, tidak hanya dari Yogya, tetappi datang dari Jakarta, Surabaya, Tegal, Purwokerto, Semarang, Kalimantan, Bekasi, Sidoarjo, Mojokerto, Magelang, Temangugung, Wonosobo, Solo, Sragen dan kota-kota lainnya.

“Mereka yang pernah tampil tidak hanya membaca puisi, tetapi juga mengolah puisi karyanya menjadi lagu dan dinyanyikan seperti dilakukan Jodhi Yudono, seorang penyair dan wartawan dari Jakarta” ujar Ons Untoro.

Penyair yang pernah tampil, demikian Ons Untoro menjelaskan, dari generasi usia yang berbeda-beda. Ada penyair yang aktif menulis puisi sejak tahun 1970an seperti Yudhistira Adinugroho, Iman Budi Santisa, Landung Simatupang, Noorca Massardi, Adri Darmadi Woko, Hendrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhie, ada juga penyair yang sejak petengahan tahun 1960an sudah menulis puisi seperti Gentong Hariono, Teguh Ranu Sastroasmara dan lainnya.

“Selain itu ada penyair muda yang mulai tumbuh tahun 2000-an dan penyair generasi tahun 1980-an dan 1990-an’ ujar Ons Untoro.

Dari penyair yang pernah tampil, tidak hanya menampilkan penyair laki-laki, tetapi malah lebih banyak menampilkan penyair perempuan, yang mulai rajin menulis puisi sejak maraknya media digital.

“Para penyair perempuan ini, selain rajin menulis puisi, kesehariannya diikat oleh pekerjaan, bukan hanya sebagai ibu rumah tangga, tetapi ada yang sebagai dosen, dokter, guru dan lainnya.

Antologi puisi ‘Rumah Kita; diambil dari judul puisi karya Ristia Herdiana. Karena Sastra Bulan Purnama merupakan rumah bersama untuk menumbuhkan kreativitas dibidang sastra dan menjali persaabatan di antara penyair yang tinggal di kota-kota berbeda.

Tiga di antaranya penyair perempuan yang akan hadir dan membacakan puisi karyanya dalam 7 tahun Sastra Bulan Purnama ialah Ristia Herdiana (Jakarta) dan Yuliani Kumudaswari (Sidoarjo), Novi Indrastuti (Yogyakarta). (*)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X