Sorot Kelir Bentara Solo: Cerita dari Timur - Kompas.com

Sorot Kelir Bentara Solo: Cerita dari Timur

Kompas.com - 19/09/2018, 04:48 WIB
Pemutaran film dan diskusiDok. Bentara Budaya Solo Pemutaran film dan diskusi

Pemutaran film dan diskusiDok. Bentara Budaya Solo Pemutaran film dan diskusi

Rabu, 19 September 2018  | Pukul 19.30 WIB
CERITA DARI TIMUR
Pemutaran Film dan Diskusi
Bentara Muda bekerja sama dengan Kisi Kelir
Rabu, 19 September 2018, pukul 19.00 WIB
Pembicara: Rachmat Hidayat Mustamin, Zen Al Ansory

JAKARTA, KOMPAS.com--Ada begitu banyak narasi yang dipelihara di rahim Indonesia, baik yang telah diungkap dan dilahirkan menjadi karya sastra seperti novel, cerpen dan puisi, maupun yang belum diceritakan sama sekali.

Sebagai salah satu tujuan destinasi turis lokal dan asing, Indonesia bagian timur merupakan salah satu corong pluralitasnya narasi, tidak hanya dari perspektif identitas dan geografisnya, tetapi juga persoalan konflik, pengalaman dan ingatan di dalamnya.  Kenyataan-kenyataan cerita itu dirangkum dalam bentuk media ungkap filem yang menjadi titik berangkat kemana lampu sorot akan mengarahkan bidikannya.

Bentara Muda berkolaborasi dengan Kisi Kelir, sebuah komunitas yang bergerak menawarkan tontonan-tontonan alternatif, mencoba merumuskan situasi ini dengan menghadirkan ruang tonton yang dilanjutkan dengan diskusi untuk memproduksi diskursus baru serta inisiatif lain dalam melihat, menyimak dan mengamati Indonesia timur sebagai bagian intim dari Indonesia. Sehingga Timur Indonesia tidak hanya dilihat dari seberapa tebal eksotismenya tetapi dlihat dari kaca mata efek dan dampak.

“Cerita Dari Timur” adalah tema yang dipilih sebagai usaha untuk melacak ulang relasi subjek, objek pada layar dan mata kamera serta bagaimana hal itu saling memengaruhi ruang tempat mereka tumbuh. Filem-filem yang ditawarkan pada pemutaran kali ini diharapkan meletakkan khalayak dalam arsitektur visual dan audial serta merasakan struktur-struktur bahasa sinema yang dalam dan sublim.

1. MUNYSERA
(Durasi 27 menit, Sutradara: Ali B Kilbaren
Sutradara Semalam sebelum mendapatkan tugas mengabarkan berita duka, John (46thn), seorang Munysera, terjatuh dan tidak dapat berlari. John meminta anaknya, Yance (24thn), untuk menggantikan dirinya berlari sejauh 45 km ke desa tetangga untuk mengabarkan berita duka kepada cucu Opa Jossy, Alex (12thn), di Desa Iblatmumta. Yance enggan menggantikan ayahnya menjadi petugas adat pemberi kabar kematian, tetapi hutang budi terhadap Opa Jossy membuat Yance memutuskan mengambil peran itu dan memberi kabar pada Alex. Perjalanan Yance memberi kabar duka dan bertemu orang-orang di perjalanannnya membuat Yance tersadar akan peran penting seorang Munysera di tengah kondisi masyarakat yang miskin dan tanpa akses transportasi.
Finalis CGV Movie Project 2017

2. WAS DAL
(Durasi 12 menit, Sutradara: Rafiat Arya Fitrah)
Seorang tentara bernama Nurdin (28thn), kabur dari kompinya karena paranoid akan pemikirannya sendiri. Filem ini berusaha merekam situasi perang antara Nurdin dengan dunia eksternal di luar dirinya, serta perang internal dengan dirinya sendiri. Di akhir filem, secara implisit, penonton diberi pertanyaan tentang relasi tubuh dan ingatan serta usaha-usaha untuk mengoreksinya.

3. HANA
(Durasi: 11 menit, Sutradara: Rifky Husain)
17 tahun selepas kerusuhan Ambon, Hana (27thn), memutuskan untuk mengembalikan kunci rumah milik keluarga Dominggus yang dituntut oleh mendiang Ibunya. Kuncinya dan pertemuannya dengan Oma Ace, merupakan usaha untuk membuka pintu ke masa lalu.

4. MENENGGELAMKAN MATA  
(Durasi: 8 menit, Sutradara: Feranda Aries)
Dua pemuda berjalan di tengah keramaian sebuah festival di tepi pantai losari, berdialog, lalu saling menimbang pertanyaan di depan sebuah maket perumahan. Mereka lalu merekonstruksi imajinasi tentang ruang-inap di hari esok serta pengalaman menyaksikan senja yang kian lama kian lenyap ditimbun bangunan.
Singapore International Film Festival 2017

5. BAJU BOLA
(Durasi: 9 menit, Sutradara: Piet Manuputty)
Aksa (9thn), seorang bocah yang memiliki mimpi menjadi pemain bola profesional kelak ketika ia besar nanti. Satu-satunya benda kesayangannya ialah kaos timnas Indonesia. Dua hari menjelang pertandingan persahabatan antarkampung, pelatih meminta ia dan teman-temannya menyiapkan kaos bola masing-masing. Namun, Aksa mendapati kondisi dimana kaos bola kesayangannya itu hilang entah dimana. Ia terancam tak bisa mengikuti pertandingan. Aksa mencari kemana-mana, mengobrak abrik seisi rumahnya, tapi tidak ditemukan. Akhirnya ia memilih mengambail cara tradisional untuk mengetahui keberadaan kaos kesayangannya.



Close Ads X