Metamorfosis Taman Indonesia Kaya

Kompas.com - 11/10/2018, 07:27 WIB
Taman Indonesia Kaya, Semarang. Kompas.com/Jodhi YudonoTaman Indonesia Kaya, Semarang.
Penulis Jodhi Yudono
|

SEMARANG, KOMPAS.com--Tahun 80an, saat saya masih tinggal di Semarang hingga awal tahun 1990, Taman Menteri Supeno yang terletak persis di seberang SMA Negeri 1 Semarang adalah taman tempat muara warga Semarang melepaskan penat. Sebab di sana, selain menjadi tempat berkumpul, juga ramai penjaja makanan, mulai dari penjual mie kopyok, tahu gimbal, gorengan, dan lain-lain.

Namun yang paling terkenal dari Taman Menteri Supeno selain penjual makanan, adalah karena taman ini juga menjadi tempat mangkal kaum waria. Fakta ini diterima warga Semarang sebagai sebuah keniscayaan sebuah kota besar. Kaum waria yang sebagian menjajakan diri maupun yang sekedar nampang, menjadi bagian denyut kehidupan malam Kota Semarang.

Kehadiran kaum Waria menjadi unik di taman ini. Sebab, selain menjadi "momok" yang menakutkan bagi para penjaga moral, kaum Waria juga menjadi "tontonan" menarik bagi sebagian masyarakat.

Waria yang sebelumnya hanya ada di panggung-panggung seni tradisionl seperti ludruk dan wayang orang, kala itu bisa ditonton dalam kehidupan sehari-hari.

Begitulah, antara moral dan "hiburan" berkelindan atas kehadiran kaum Waria di taman ini. Itulah sebabnya, sesekali kami menyaksikan para Waria lari terbirit-birit menghindari kejaran pasukan Tibum (ketertiban umum) yang kini mungkin bernama Satpol PP.

Sebagai "anak malam", saya sedikit tahu bagaimana denyut hidup taman ini, taman yang kemudian dinamai sebagai Taman KB (Keluarga Berencana) dengan simbol patung seorang ibu dengan dua anak yang menghadap ke Jalan Pahlawan. Gara-gara tak ada patung ayah, maka kerap pula taman ini dinamai Patung Randa (patung janda).

Sampai akhirnya, di awal tahun 2000an, Pemerintah Kota Semarang yang bekerja sama dengan para seniman Semarang sepakat untuk lebih menghidupkan taman ini. Maka, di salah satu sudut yang menghadap SMA Negeri 1 dibuatlah panggung musik, dan di setiap sudut taman dipasang lampu yang benderang.

"Maka sejak saat itulah, kaum Waria sudah mulai berkurang. Para Waria dan pelanggannya mungkin malu, karena tidak ada tempat remang-remang untuk bertransaksi," ujar Marco Marnadi, mantan Ketua Dewan Kesenian Semarang.

Selanjutnya, malam-malam Taman Menteri Supeno menjadi taman yang menyenangkan. Para penjaja makanan berderet mengitari taman, menjadi daya tarik orang berkunjung ke taman ini. Taman yang benderang, membuatnya tempat yang terbuka dan aman bagi keluarga yang membawa anak-anak di bawah umur.

Sampai akhirnya, tanggal 10 Oktober, taman ini berubah menjadi Taman Indonesia Kaya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X