Sehari Mendongeng di Perpustakaan Nasional - Kompas.com

Sehari Mendongeng di Perpustakaan Nasional

Kompas.com - 28/10/2018, 01:13 WIB
ilustrasiReboeng ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com--Lembaga Seni dan Sastra (LSS) Reboeng bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, menggelar acara yang spektakuler pada 28 Oktober 2018 dengan tajuk “Seharian Jakarta Mendongeng”.

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 – pukul 16.00 ini melibatkan hampir 100 penampil dari berbagai kalangan, seperti pelajar, pendongeng, sanggar tari, ‘pedalang’ ( dongeng wayang dari Yogyakarta), dan lain-lain. Dengan demikian, selain dongeng, akan tampil pula semaphore, tari tongkat, musik, lagu dan puisi, juga tari-tarian. Kegiatan diisi pula dengan workshop mendongeng oleh Kak Aio, workshop menulis cerita anak oleh Kak Watiek Ideo dan Kak Nindia Maya, serta workshop membuat topeng dari bubur kertas oleh Bung Sardi Beib. Selain itu, ada pula gelaran bazar yang ikut memeriahkan ‘pesta’ “Seharian Jakarta Mendongeng” ini.

Nana Ernawati, ketua LSS Reboeng menyampaikan bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk mendorong masyarakat agar kembali kepada tradisi lama yang memang tak seharusnya ditinggalkan walaupun zaman sudah sangat maju. “Tradisi mendongeng, adalah salah satu yang perlu dihidupkan kembali sebagai sarana mengajarkan budi pekerti maupun pengajaran calistung (membaca, menulis, dan berhitung) sebagai dasar literasi. Dengan cara mendongeng, gerakan literasi menjadi sangat menarik, sehingga keceriaan masa kanak-kanak dikembalikan seperti yang seharusnya, yaitu anak-anak mengenal kembali dunia mereka: dunia anak-anak yang ceria,” tegas Ernawati.

Gayung bersambut, pihak Perpustakaan Nasional pun sangat antusias dengan upaya LSS Reboeng ini. Agus Sutoyo, Kepala Bidang Layanan Koleksi Umum Perpusnas berharap, dengan kegiatan ini masyarakat terdorong untuk lebih antusias datang ke Perpusnas sebagai tempat untuk melakukan berbagai kegiatan literasi, juga tempat menggali pengetahuan.

Pada pokoknya, budaya dongeng-mendongeng perlu mendapat tempat. “LSS Reboeng dan Perpusnas meyakini, bahwa pelestarian kekayaan mendongeng harus dimulai dengan gerakan literasi secara massif agar kontinuitas budaya mendongeng sungguh mengena pada sasaran, yaitu pembentukan budi pekerti anak,” ujar Dhenok Kristianti, ketua panitia pada kegiatan ini.



Close Ads X