Jodhi Yudono
Wartawan dan budayawan

Menulis esai di media sejak tahun 1989. Kini, selain menulis berita dan kolom di kompas.com, kelahiran 16 Mei ini juga dikenal sebagai musisi yang menyanyikan puisi-puisi karya sendiri maupun karya penyair-penyair besar semacam WS Rendra, Chairil Anwar, Darmanto Jatman, dan lain-lain.

Jodhi Yudono Ngamen untuk Sulteng

Kompas.com - 01/11/2018, 10:37 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Hari ini, Kamis 1 November 2018,  saya memulai "tugas" melaksanakan kata hati untuk "ngamen" bagi para  penyintas, khususnya anak-anak yang selamat dari bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Saya menyebutnya "tugas",  sebab dia muncul begitu saja dan menggerakan daya serta kemauan saya untuk melunaskannya menjadi perbuatan.

Ya, tugas itu berasal dari Yang Maha Menggerakkan. Sama persis saat saya mulai menghibur orang-orang sakit, yang kemudian menggelinding jadi bagian aktivitas berkesenian saya hingga kini.

Tentu, segala peristiwa ada pemantiknya, mengapa saya harus ngamen kali ini. Pertama, karena kawan-kawan saya anggota Ikatan Wartawan Online (IWO) Sulawesi Barat sudah berada di tenda-tenda pengungsian lebih dari sebulan.

Sebagai Ketua Umum IWO, saya tak bisa tinggal diam saat kawan-kawan di sana meminta "peluru" atau bekal untuk bertahan hidup  guna menjalankan tugas-tugas kemanusiaan mereka, serta  bantuan untuk disumbangkan bagi anak-anak di tenda-tenda pengungsian.

Kedua, saya kaget ketika mendengar kabar bahwa dana bantuan untuk korban gempa Lombok ternyata belum cair akibat birokrasi yang berbelit.

Dua hal itulah yang menjadi stimulus bagi saya untuk segera bergerak. Dan kata hati saya mengatakan, saya harus bergerak dengan kebisaan saya bermusik dan bernyanyi. Ngamen! Itulah yang harus saya lakukan.

Ngamen menurut Kamus Bahasa Indonesia berasal dari kata mengamen, berkata dasar amen.  Mengamen,  berkeliling (menyanyi, main musik, dan sebagainya) untuk mencari uang.

Mengamen bisa dilakukan oleh penari, penyanyi, atau pemain musik yang tidak tetap tempat pertunjukannya, biasanya mengadakan pertunjukan di tempat umum dengan berpindah-pindah.

Nah, demikianlah yang saya lakukan mulai hari ini. Bermusik dan bernyanyi secara berkeliling,  dari satu tempat ke tempat lainnya guna mencari uang untuk saya sumbangkan kepada anak-anak di pengungsian Sulawesi Tengah, khususnya di beberapa titik yang selama ini menjadi perhatian IWO dan Yayasan Karampuang, yakni Posko Kaki Gunung Gawalise, Posko Petobo ang berada di perbatasan Kabupaten Sigi dan Palu, serta Posko Balaroa.

Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.