Kebo Ketan dan Kohesi Sosial - Kompas.com

Kebo Ketan dan Kohesi Sosial

Kompas.com - 17/11/2018, 07:54 WIB
Acara Wiwitan dilakukan di Sendang Mergo, Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi.Kraton Ngiyom Acara Wiwitan dilakukan di Sendang Mergo, Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi.

JAKARTA, KOMPAS.com--Garebeg Maulud atau dikenal juga sebagai Sekaten pada masa diciptakannya berfungsi menguatkan kohesi sosial di masyarakat Jawa yang terpecah dua, yakni para penganut agama lama dan baru.

Di ruang dan waktu Sekaten itu kedua golongan itu sama-sama dimanusiakan. Yang ingin menikmati gamelan, telor merah, kerbau sakral, gunungan, diberi tempat, dan yang ingin mengucapkan Syahadat juga diberi tempat.

Adapun dewasa ini fungsi penguat kohesi sosial upacara Garebeg Maulud ini sudah pudar dan masyarakat sudah terbelah menjadi lebih banyak dari sekedar dua golongan.

Masyarakat kini terpecah dalam berbagai agama, budaya, golongan sosial, ras, afiliasi politik dan status ekonomi. Oleh karena itu dibutuhkan suatu karya seni upacara yang berupaya merangkul seluruh pihak masyarakat dan memanusiakan mereka bersama dalam satu ruang waktu yang khusyuk sekaligus bahagia. Inilah salah satu fungsi dan urgensi Upacara Kebo Ketan.

Oleh sebab itu di dalam Upacara Kebo Ketan yang merupakan perayaan Maulud Nabi, kami merayakannya dengan berbagai pertunjukan dan sumbangan keikhlasan dari berbagai golongan.

Selain acara menyanyikan lagu Indonesia Raya lengkap 3 stanza dipimpin oleh Adoy, ada juga ceramah agama, seni dan kebudayaan dari Dr. KH. Zastrouw Al-Ngatawi, dan juga mengundang tampil KH. Yahya Cholil Staquf, Khatib Am PBNU, ada perwakilan Katholik memimpin menyanyikan Indonesia Rata lengkap 3 stanza, ada Rama Padma Vhira Dharma Sogata dari agama Kasogatan Jawa, ada Dirajo Maharajo dari agama Hindu Buddha Sriwijaya, dan ada Okky Satrio Djati dari agama Sunda Wiwitan melalukan upacara sakralisasi perarakan dan penyembelihan Sang Kebo Ketan.

Ada pula kelompok seni Bali Agung Productions pimpinan Yantu Prabawa Manukaya melakukan purifikasi arena dengan karya Tumpyag Api. Selain itu warga desa Sekaralas dan Sekarputih di kecamatan Widodaren telah sejak sebulan lalu sibuk bekerja menyiapkan set panggung dan kesiapan rumah-rumah warga sebagai homestay untuk menginap penampil dan peserta upacara.

Serbuk silang kreativitas

Upacara Kebo Ketan juga bercita-cita membantu kebangkitan seni budaya nasional sehingga ia juga menjadi arena “serbuk silang kreativitas”. Sejak UKK pertama di tahun 2016 kami memberikan kesempatan berbagai seniman berbagi panggung.

Tercatat sejak awal tokoh-tokoh sekaliber Virgiawan Iwan Fals, Sawung Jabo, Oppie Andaresta, main sepanggung dengan seniman yang lebih tak dikenal, misalnya seorang Abdul Rani dari Singkawang.

Hasil dari serbuk silang kreativitas tiga tahun lalu ini, mulai tampak sekarang. Pada tahun ini bersama komunitas Rusen di Singkawang, Abdul Rani sedang membuat serangkaian gelar seni kejadian berdampak di Singkawang yang bertujuan mengokohkan kohesi sosial untuk berdampak Sungai Singkawang bersih.

Di UKK I, kelompok Barong Abang asuhan seniman muda energik, Hendro Dwi Raharjoss dari desa Tanggulangin, Jatisrono, Wonogiri, menampilkan Barong Abang, yang mengembangkan dengan kreatif konsep reog Ponorogo. Di UKK II, Barong Abang sudah melangkah lebih jauh, sehingga memiliki bikan satu tetapi dua topeng bernama Kukila Prahara dan Kukila Mukti yang tampil bersama puluhan pemain perkusi dalam suatu opera model baru. Di UKK III tahun ini kelompok Barong Abang menyiptakan satu topeng baru lagi bernama topeng Singkir.

Kreativitas kelompok Barong Abang ini menginspirasi Kraton Ngiyom yang mencuri konsepnya untuk dikembangkan. Bila gagasan dasar topeng reog dadak merak Ponorogo adalah sebuah topeng berwajah harimau diberi bingkai bulu merak yang besar, maka topeng Kukila Prahara dan Kukila Mukti, Barong Abang, adalah topeng garuda dengan bingkai potongan bambu yang setiap bergerak berkulintang seperti angklung. Kraton Ngiyom membuat topeng Mahesa Nempuh, berwujud kepala kerbau dengan bingkai anyaman bambu pengganti bulu merak.

Topeng Mahesa Nempuh dibuat oleh penata artistik Kraton Ngiyom, Gimbal Woyo BT dan Bramantyo Prijosusilo. Ketika berkunjung ke Kleco di Kulon Progo DIY, Gimbal melihat kelompok Jathilan Lancur Among Budaya di sana yang memiliki sebuah barongan, maka ketika pulang ke Ngawi iapun membuat sebuah barongan hibrid antara naga dan kerbau, diberi nama Mahesa Naga. Dari inspirasi topeng Ganong reog Ponorogo, Gimbal juga membuat topeng Mahesa Ganong, pelengkap repertoar Mahesa Nempuh Kraton Ngiyom. Di bulan Agustus lalu Gimbal mendapat undangan dari Bp. Odeck Ariawan dan Ibu Tara Murff di Ubud, Bali, untuk membantu sekaligus magang dalam proses persiapan suatu upacara Ngaben. Hasil dari magang tersebut, saat ini Gimbal sedang membuat suatu kerbau raksasa dari jerami, bernama Mahesa Dahana, yang nanti di puncak upacara kebo ketan akan dibakar sebagai simbol purifikasi semangat kerakyatan yang dibutuhkan untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama.



Close Ads X