Teater Koma Gelar Asmara Raja Dewa - Kompas.com

Teater Koma Gelar Asmara Raja Dewa

Kompas.com - 17/11/2018, 09:21 WIB
Pertunjukan Teater Koma Mahabarata, Asmara Raja DewaTeater Koma Pertunjukan Teater Koma Mahabarata, Asmara Raja Dewa


JAKARTA, KOMPAS.com--Menyaksikan pertunjukan Teater Koma yang mengangkat lakon "Mahabarata: Asmara Raja Dewa", di Graha Bhakti Budaya, Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki yag digelar dari tanggal 16 s.d 25 November 2018, rasanya melelahkan.

Pertunjukan yang digelar sepanjang empat jam ini terlalu bertele-tele di babak pertama, sehingga beberapa penonton tampak tak kjembali lagi setelah istirahat 10 menit untuk melanjutkan pementasan hingga rampung.

Bercerita tentang kisah pewayangan yang kontekstual dengan zaman sekarang, Teater Koma tetap fasih menggelar tontonan yang jenis realis. Maka tak heran, di panggung nampak patung gajah, lembu, yang menyerupai benar dengan aselinya.

Syahdan, Dewi Rekatawati yang hamil besar itu melahirkan, namun yang dilahirkan oleh sang dewi bukanlah sesosok bayi, tapi ia melahirkan sebutir telur. Sang Hyang Tunggal bermuja semedi mengheningkan cipta masuk ke Swargaloka Awang Uwung Kumitir. Di hadapan Sang Hyang Wenang, ia menceritakan perihal telur yang dilahirkan oleh istrinya.

Sang Hyang Wenang memberi petunjuk dan memberikan air kehidupan “Tirta Kamandanu” kepada Sang Hyang Tunggal.
Sesuai petunjuk ayahnya, telur itu ia puja hingga meretak dan pecah berserakan menjadi tiga bagian, kulit, putih dan merah telur. Sang Hyang Tunggal menyiramkan ‘air kehidupan’ Tirta Kamandanu secara bersamaan kepada bagian telur yang tercerai berai.

Secara ajaib, kulit, putih dan merah telur itu berubah menjadi tiga sosok bayi. Sang Hyang Tunggal memberi nama masing-masing bayi yang tercipta, dari kulit telur diberi nama Sang Hyang Antaga, sedangkan bayi yang tercipta dari putih telur diberi nama Sang Hyang Ismaya, dan bayi yang tercipta dari merah telur diberi nama Sang Hyang Manikmaya. Kelak ketiga putera Sang Hyang Tunggal ini akan mempunyai peran penting dalam meramaikan Jagat Pramuditya (wayang). Adapun ari-ari (plasenta) berubah ujud menjadi Narada.

Setelahnya Sang Hyang Manikmaya dinobatkan menjadi Raja Tribuana di kahyangan Suralaya, maka Sang Hyang Tunggal dan kedua isterinya yaitu Dewi Darmani dan Dewi Wirandi mokswa menuju swargaloka sunyaruri. Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga untuk sementara waktu ditugaskan mendampingi Sang Hyang Manikmaya, sebelum mereka nantinya turun ke marcapada.

Dari kekosongan, Sang Hyang Wenang mencipta Tiga Dunia: Mayapada (dunia atas), Madyapada (dunia gelap), dan Marcapada (dunia bawah), beserta seluruh penghuninya. Lalu, terjadi perang dahsyat, perebutan kekuasaan antara Idajil dan Hyang Tunggal, pewaris Wenang. Idajil kalah, dibelenggu dan diasingkan. Setelah beberapa waktu, Hyang Tunggal lengser dan digantikan oleh Batara Guru.

Inilah kisah tentang Rajadewa, Batara Guru, dalam menjaga kedamaian Tiga Dunia yang selalu diusik oleh penghuni Dunia Gelap. Mereka selalu berhasrat merebut tampuk kekuasaan Tiga Dunia. Belum lagi Idajil, selalu menghasut para perusuh dari belenggu tempat pengasingannya.

Apakah Batara Guru mampu melindungi Tiga Dunia dari gangguan Idajil dan pengikutnya yang haus kuasa? Apakah Kaum Wayang akan termakan provokasi dan hasutan dari Idajil dan pengikutnya? Jawabannya ada dalam lakon Mahabarata: Asmara Raja Dewa.

“Ini lakon lama, kisah lama, tapi masih sangat memikat. Ini lakon para Dewa dan kemudian lakon penciptaan manusia. Genesis. Lakon ini tidak masuk kepada pakem. Ini lakon yang sumbernya bisa dari mana saja, maka tak heran jika kali ini Tanah Batak, Bugis, Toraja, Bali bahkan Yunani, Mesopotamia, dan Afrika menjadi sumber yang mampu menciptakan berbagai jenis seni dan daya kreativitas manusia,” tutur N. Riantiarno, penulis naskah dan sutradara Teater Koma.

Pementasan Mahabarata: Asmara Raja Dewa kali ini didukung oleh Idries Pulungan, Budi Ros, Sari Madjid, Alex Fatahillah, Dorias Pribadi, Daisy Lantang, Ratna Ully, Asmin Timbil, Raheli Dharmawan, Toni Tokim, Bayu Dharmawan Saleh, Angga Yasti, Tuti Hartati, Dana Hassan, Suntea Sisca, Julung Zulfi, Indrie Djati, Dodi Gustaman, Sekar Dewantari, Sir Ilham Jambak, Rangga Riantiarno, dan masih banyak lagi.

Tata busana Rima Ananda bersama tata rias Subarkah Hadisarjana dan tata rambut garapan Sena Sukarya dengan dukungan PAC Martha Tilaar, akan berpadu dengan tata artistik garapan Idries Pulungan, tata cahaya besutan Deray Setyadi, latar animasi dan multimedia olahan Deden Bulqini yang akan didukung oleh proyektor Epson. Dalam lakon ini, Epson menunjukkan bahwa proyektornya mampu memberikan warna pada panggung menggunakan 3 proyektor dengan rentang 12.500 hingga 25.00 lumens menjadikan pentas ini menjadi lebih berwarna dan meriah. Tata gerak kreasi Ratna Ully serta arahan instruktur vokal Naomi Lumban Gaol akan diiringi oleh musik komposisi dan aransemen karya Fero Aldiansya Stefanus. Lakon ini juga akan mendapat sentuhan tata grafis dari Saut Irianto Manik. Semua didukung oleh Pimpinan Panggung Sari Madjid, Pengarah Teknik Tinton Prianggoro serta Pimpinan Produksi Ratna Riantiarno, di bawah arahan Co-Sutradara Ohan Adiputra dan Sutradara N. Riantiarno.



Close Ads X