"Indonesia Sejuta Warna" dari Empat Perupa

Kompas.com - 05/03/2019, 08:40 WIB
Putu WijayaDok. Tembi Putu Wijaya

YOGYAKARTA, KOMPAS.com--Rupanya, Putu Wijaya tidak hanya dikenal sebagai sastrawan dan dramawan, selain pernah memiliki profesi sebagai wartawan, dia juga melukis.

Mungkin karena pernah belajar di ASRI Yogya, sehingga teknis menggambar sudah dia miliki, dan kali ini Putu Wijaya, bersama tiga perupa lainnya, yakni Jupri Abdullah, Chryshnanda Dwilaksana dan Amdo Brada melakukan pameran bersama.

Pembukaan pameran akan dilakukan  Rabu, 13 Maret 2019, pkl. 19.00 di Ruang Pamer Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Pameran akan dibuka oleh Prof.Dr. M. Agus Burhan, M.Hum, Rektor ISI Yogyakarta. Tajuk dari pameran ‘Indonesia Sejuta Warna’.

Pada pembukaan pameran ini akan diisi pembacaan puisi oleh dua penyair Yogya yang bergulat dengan sastra sejak akhir tahun 1970-an, yakni Krishna Miharja dan Marjudin Suaeb, serta dua desainer Yogya yang memiliki perhatian terhadap sastra, yakni Essy Masita dan Tossa Santosa, dan performance oleh Putu Wijaya.

Sebagai perupa Putu Wijaya memang belum lama memulai, baru sekitar 7 tahun yang lalu mulai menggambar, atau tepatnya sejak tahun 2012. Karyanya pernah dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (2014) YPK Bandung. Namun karya sastra, novel dan naskah drama sudah dikenal secara luas.

Lain lagi dengan Jupri Abdullah, sebagai perupa dia telah melakukan banyak pameran disejumlah tempat pada tahun yang berbeda-beda. Bahkan dalam satu tahun dia bisa pameran dua tiga kali ditempat yang berbeda. Sejak tahun 1989 dia sudah melakukan pameran tunggal. Selain itu juga pameran bersama. Chryshnanda Dwikaksana telah melakukan pameran bersama berkali-kali. Pameran berempat ini merupakan pameran yang kesekian kali dia lakukan.

Karya Chryshnanda di antaranya ada yang mengambil tema religius, setidaknya bisa dilihat dari karya yang berjudul Ece Homo, Getsemany dan The Savior. Karena bagi Nanda, demikian dia biasa dipanggil, tema religius merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan, yang diungkapkan melalui seni rupa.

Chryshnanda seorang perwira polisi, yang memiliki hobi melukis dan sekarang menjabat Dir Kamsel Korlantas Polri sejak 2017.

Amdo Branda, perupa yang tinggal di Surabaya dan pernah belajar di ASRI Yogyakarta, pergulatan keseniannya cukup panjang dan sudah melakukan sejumlah pameran, baik tunggal maupun bersama.

Setiap pameran tunggal Amdo Brada selalu bertemakan sentuhan etnik Nusantara dengan berbagai dinamikanya. Di antaranya menampilkan tentang “Krisis Kepemimpinan Nasional” di Surabaya, “Porak-Poranda Seni Rupa Kita” di Bali, “Estetika Timur” di Bandung, “Topeng-Topeng Hitam Putih” di Bandung, “Borobudur” di Yogyakarta dan 2018 “Etnik Nusantara” di Balai Budaya Jakarta.

Eksplorasi jiwa seninya juga disalurkan dalam kepeduliannya pada lingkungan hidup di tingkat Provinsi Jawa Timur melalui pameran berkonsep Green Art di Surabaya. Karyanya masuk dalam berbagai pameran bersama seleksi seperti Binale Seni Lukis Nasional di Jakarta, Tri Nalle Nasional di Bali, dan mewakili Jawa Timur dalam pameran seni rupa Taman Budaya Nasional di Yogyakarta. Karyanya menjadi pengisi karya undangan utama dalam pameran Brut Art pertama di Surabaya

Ons Untoro, dari Tembi Rumah Budaya, penyelenggara pameran mengatakan tajuk ‘Indoensia Sejuta Warna’ merespon negara Indonesia yang penuh warna, setidaknya seperti karya seni rupa, yang setiap warna saling mengisi dan menguatkan. Melalui pameran ini, keempat perupa hendak memberi pesan bahwa dalam perbedaan warna, sesungguhnya kita saling mengisi dan menguatkan, bukan malah sebaliknya saling bermusuhan.

“Betapa indahnya kita, dalam perbedaan saling bersahabat dan bersaudara” kata Ons Untoro. (*)




Close Ads X