Puisi dan Geguritan di Sastra Bulan Purnama

Kompas.com - 20/03/2019, 11:54 WIB
ilusterasiDok. Tembi ilusterasi

YOGYAKARTA, KOMPAS.com-- Puisi dan geguritan bukan dua hal yang berbeda. Perbedaan dari keduanya hanya dari segi bahasa. Puisi ditulis menggunakan bahasa Indonesia dan geguritan ditulis menggunakan bahsa Jawa. Tapi tema yang diangkat bisa sama, misalnya soal kerinduan, alam, dan seteruanya. Penulis puisi disebut penyair dan penulis geguritan disebut penggurit.

Sastra Bulan Purnama edisi 90, yang akan dilangsungkan Sabtu, 23 Maret 2019, pkl. 19.30 di Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta akan diisi peluncuran 4 buku, yakni 2 buku puisi dan 2 buku geguritan. 2 Buku puisi berjudul ‘Yang Terasing dan Mampus’ karya Marlin Dinamikanto, penyair dari Jakarta dan ‘Gapura’ karya Suyitno Ethex, penyair dari Mojokerto. 2 Buku geguritan berjudul ‘Taman Kembang Sore’ karya Sri Wijayati dan ‘Kalamun Bening’ karya Sunawi, keduanya penggurit dari Yogyakarta.

Selain dibacakan oleh penulisnya, puisi dan geguritan juga akan dibacakan oleh para pembaca lainnya, seperti Ami Simatupang, seorang pemain teater, Krishna Miharja, seorang penyair, Liek Suyanto, seorang aktor teater, R.Agus Purnomo, MM. Tri Suwarni, Tari Made, Listiani Darma, Budi Siswanto, Supriyadi, Anwar Wiyadi, Choen Supriyatmi dan Otok Bima Sidharta.

Untuk lagu puisi, Marlin Dinamikanto akan mengalunkan puisi-puisinya yang sudah digubah menjadi lagu. Melalui petikan gitar, Marlin, demikian panggilannya, akan membawakan puisi-puisi karyanya.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menjelaskan, sengaja puisi dan geguritan dipetemukan, karena kedua jenia karya sastra tersebut bukan dua hal yang berbeda. Bahkan bisa ditemukan, penggurit sekaligus penyair, karena menulis puisi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.

“Puisi dan geguritan hanya berbeda dari segi bahasa yang digunakan. Problemnya pada geguritan, hanya dimengerti oleh orang yang bisa berbahasa Jawa, orang Sunda, yang tidak mengerti bahasa Jawa tidak bisa memahami geguritan, tetapi bisa mengerti puisi yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia” ujar Ons Untoro.

Keduanya bertemu dan berinteraksi bukan hanya dari segi karya, namun secara personal, antara penyair dan penggurit saling bertemu dan berinteraksi. Kedua penyair dari kota yang berbeda, Marlin Dinamikanto dari Jakarta, Suyitno Ethex dari Mojokerto dan Sri Wijayati dan Sunawi dari Yogyakarta.

Kedua penyair dan kedua penggurit, bukan hanya sekali ini tampil di Sastra Bulan Purnama, tetapi sudah pernah tampil di tahun yang berbeda-beda, Sunawi pernah meluncurkan antologi puisi. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Suyitno Ethex, pernah dua kali meluncurkan antologi puisi di Sastra Bulan Purnama.

Marlin dan Ethex sering tampil membaca puisi ditempat yang berbeda, termasuk setiap tahun ikut hadir dalam acara ‘Negeri Poci’ yang diselenggarakan di Tegal. Keduanya ikut tampil membacakan puisi karyanya.

“Selain akan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama, puisi-puisi saya yang ada di dalam buku ‘Yang Terasing dan Mampus’ secara terpisah sering saya bacakan di kota-kota yang berbeda, terutama dikalangan para aktivis” kata Marlin Dinamikanto. (*)




Close Ads X