Persembahan Monita Tahalea

Kompas.com - 14/05/2019, 00:53 WIB
Penyanyi Monita Tahalea ditemui dalam jumpa pers di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (16/1/2019). KOMPAS.com/ANDIKA ADITIAPenyanyi Monita Tahalea ditemui dalam jumpa pers di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (16/1/2019).
Penulis Jodhi Yudono
|

JAKARTA, KOMPAS.com-- Monita Tahalea mempersembahkan pertunjukan bertajuk "Tiga Menguak Takdir" dalam Melodi, yang terinspirasi buku kumpulan puisi karya para maestro sastra Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Sabtu (11/5) lalu.

“Sudah sejak lama saya membaca karya-karya puisi Chairil Anwar dan beberapa sastrawan lainnya, salah satunya adalah buku Tiga Menguak Takdir ini yang juga menjadi inspirasi saya dalam menciptakan karya. Sebagai generasi muda penerus bangsa, kita harus terus mengasah kemampuan dan menggali pengetahuan kita sehingga mampu menghasilkan karya yang tak lekang dimakan usia,” ujar Monita Tahalea dalam keterangan pers, Senin.

Selama 60 menit, Monita mengajak para penikmat seni untuk memaknai dan menghayati karya-karya puisi dari para maestro sastra. Mulai dari membacakan puisi karya Chairil Anwar yang berjudul "Senja di Pelabuhan Kecil" diiringi dengan melodi akustik lagu "Perahu".

Kemudian Monita membacakan puisi karya Rivai Apin berjudul "Elegi", yang menginspirasinya dalam menciptakan lagu yang berjudul "Bisu". Selanjutnya Monita membacakan puisi "Melalui Siang Menembus Malam" dan menyanyikan lagu terbarunya yang berjudul "Jauh Nan Teduh".

Selain itu beberapa puisi dan lagu dibacakan dan dinyanyikan secara bergiliran seperti Sajak Buat Adik yang dilanjutkan dengan lagu Sesaat Abadi, Surat dari Ibu dan lagu Hope, Tjerita Buat Dien Tamaela dan lagu Indonesia Pusaka. Tidak lupa, Monita juga menyanyikan lagu andalannya yang berjudul Memulai Kembali ke hadapan para penikmat seni.

Buku kumpulan puisi "Tiga Menguak Takdir" karya Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani ini pertama kali terbit di Balai Pustaka pada 1950.

Buku ini mengajak pembaca untuk menyelami pemikiran perasaan ketiga sastrawan yang datang dari latar belakang berbeda, namun menyatu demi mencapai suatu cita-cita yang mereka sebut sebagai "suatu tujuan takdir".

Dalam pendahuluan buku ini, Asrul Sani mengatakan bahwa pendekatan ini tak berarti menuruti salah satu garis atau garis dari salah seorang dari kami, tapi dalam saling menghargai segi-segi yang dihadapi masing-masing. Garis dasar yang satu, bagi kami apriori, tak usah dipertengkarkan lagi.

Monita Tahalea memulai karirnya musiknya melalui ajang pencarian bakat pada 2010.

Pada tahun yang sama, Monita merilis debut album pertamanya yang diproduseri Indra Lesmana, bertajuk "Dream, Hope and Faith".

Tiga tahun kemudian, ia merilis mini album bersama bandnya, The Nightingales yang bertajuk "Song Of Praise". Kemudian pada 2015, Monita merilis "Dandelion" yang merupakan album solo keduanya dan dia rilis secara independen. Baru-baru ini Monita juga meluncurkan single terbarunya yang berjudul "Jauh Nan Teduh".



Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X