Penulis Muda Bicara Ragam Tema Sastra

Kompas.com - 15/05/2019, 02:45 WIB
Ilusterasi Dok. Bentara Budaya JakartaIlusterasi
Penulis Jodhi Yudono
|

JAKARTA, KOMPAS.com-- Bentara Budaya Jakarta kembali menggelar program Beranda Sastra, sebuah program diskusi mengenai hal-hal seputar karya sastra.

Kali ini, topik yang diangkat perihal keragaman tema dalam kepengarangan di Indonesia dalam tajuk diskusi “Terjebak Nostalgia” yang diselenggarakan pada Kamis, 16 Mei 2019 pukul 16.00 WIB di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan No. 17 Jakarta. Acara ini bersifat gratis dan terbuka untuk umum.

Diskusi ini digelar sehubungan dengan adanya anggapan umum tak terkatakan bahwa beberapa tema dianggap sangat menarik lalu rasanya perlu untuk selalu dituliskan berulang-ulang.

Tema-tema politis kemudian menjadi favorit, pun tema-tema eksotis seperti kampung halaman yang digambarkan ala lukisan mooi indie atau malah sebagai savages, baik mulia ataupun barbar. Perkembangan ini menarik barangkali untuk menambah pengetahuan, tapi tanpa disertai dengan kecakapan dan upaya-upaya bentuk penulisan yang baik, barangkali sejarawan atau ilmuwan sosial akan menangani isu ini dengan lebih kaya.

Lalu, bagaimana para penulis muda melihat jebakan tema seperti ini? Acara ini mengundang dua penulis untuk berbagi mengenai proses kreatif mereka: penulis fiksi yang menulis novelanya tidak menggunakan tema-tema favorit tersebut, sekaligus terlibat proyek penulisan fiksi berbasis riset mengenai peristiwa pasca-98, dan seorang jurnalis yang menulis ragam laporan dan bereksperimen dengan bentuk-bentuk penulisan di beberapa laporan pentingnya. Mereka di antaranya Mawa Kresna dan Ruhaeni Intan.

Beranda Sastra #15 kali ini bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta, serangkaian dengan kegiatan Jakarta International Literary Festival 2019 yang mengambil tema Many Faces of the South yang akan dihelat pada Agustus 2019. Festival ini mengusung semangat Selatan-selatan, dan untuk tahun ini bertajuk Pagar.

Pagar dipilih karena mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Pemilihan nama tersebut dirasa cocok dengan latar belakang di atas karena sastra kini dihadapkan tidak hanya dengan perdebatan lokal tetapi juga global. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia liar dan ketenangan rumah.

Maka dari itu, konsep pagar tidak selalu terikat dengan perlintasan batas-batas geografis sastra, akan tetapi juga mengandung makna perawatan dan pemeliharaan sastra lokal. Dengan pagar kita memisahkan kita dan dunia di luar tetapi selalu dalam kesadaran kehadiran kita di tengah dunia. Dalam kata lain, kepekaan lokal dengan wawasan global.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X