Diskusi Kecil Pawon "Nanti Kita Julid Tentang"

Kompas.com - 18/05/2019, 02:27 WIB
ilusterasi Dok. Bentara Budaya Soloilusterasi
Penulis Jodhi Yudono
|

SURAKARTA, KOMPAS.com--Agak berbeda dengan biasanya, kali ini Diskusi Kecil Pawon membawa tiga bahasan dalam satu acara. Acara berjudul “Nanti Kita Julid Tentang…” berkemauan didatangi sekian banyak orang.

Kita akan menyimak kisah-kisah dari para pengoceh dan mengalami diskusi sungguh santai. Acara akan berlangsung dari siang hari sampai menjelang buka puasa. Tersebutlah tiga sub-bahasan termaksud sebagai berikut.

“Sastra Kutipan”. Tahun-tahun belakangan, jagat perbukuan kita berhasil menjual dan mencetak ulang –berkali-kali pula–buku-buku berwajah-visual-manis. Yang paling laku sejauh ini tentu Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini atau lebih suka kita sebut NKTCHI karya Marcella FP. Sebelumnya kita barangkali sempat bertemu buku-buku karya Lala Bohang, Adi K, dan tersebutlah lebih banyak lagi dipajang di rak-rak mudah tertangkap mata calon pembelanja buku.

Tapi buku-buku itu belum selaris NKTCHI. Penerbit asal Jogja bahkan berani menerbitkan buku dengan komposisi isi serupa dengan judul Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini (NKTSHI). Buku tak malu-malu mengakui menduplikat strategi judul pertama, termasuk dalam membangun basis pembelinya. Ada yang mengatakan fenomena ini adalah kebangkitan industri buku yang dianggap hampir mati kutu.

Tapi tak sedikit pula yang geram. Buku-buku berwajah-visual-manis yang irit kata-kata itu dinilai tak cukup menyumbang kebaikan bagi pendidikan literasi kita. Buku-buku begitu seringkali habis dibaca dalam sekali duduk. Tidak menciptakan dialektika atau permenungan mendalam akan suatu hal. Barangkali kecuali kata-kata bijak bermaksud cukup untuk mengalami hidup. Naimatur Rofiqoh, Eko Setyawan, dan Susantini akan berbagi cerita dan pandangannya soal merebaknya buku-buku berwajah-visual-manis mulai dari segi kreatif pembuatan buku sampai kaitannya dengan dunia jual-beli buku.

“Yang Saru atau Seru dalam Sastra”. Konon, salah satu bumbu dalam karya sastra itu perkara-perkara yang dekat dengan selangkangan dan seterusnya. Hal yang bagi awam dianggap saru dan tabu dihadirkan-dibicarakan di publik. Tapi dalam dunia sastra, hal-hal yang begitu itu lebih sering menarik pembaca. Para pembaca sastra kadung mengamini bahwa yang saru-saru itulah yang justru seru. Bersama Fanny Chotimah, Setyaningsih, dan Liswindio Apendicaesar kita akan bersama-sama menyelami yang saru-saru tapi seru.

“Perempuan Berbahaya”. Masa sudah sedemikian meriah, tapi perempuan-perempuan kerapkali masih merasa atau malah betulan tak mendapat ruang hidup sebaik yang dimiliki lawan jenisnya. Ruang hidup itu selain dalam ranah pekerjaan domestik rumah tangga (memasak, melayani suami dan keluarga, dan segalanya) juga soal lain.

Perempuan, bagaimanapun upayanya untuk menjadi manusia berkualitas secara sikap dan pikiran itu masih selalu mendapat aral. Memang banyak dari kita yang sadar perlunya keberimbangan peran antara laki-laki dan perempuan. Tapi lebih banyak lagi yang menolak dan merasa hidup sudah baik-baik saja dengan peran dominan laki-laki di segala urusan penting menyoal harkat dan martabat kemanusiaan.

Sudahlah, perempuan cerewet dan pintar dan banyak baca buku dan banyak membantah konsensus itu menyalahi kodrat. Selain itu, juga susah dapat jodoh hlo. Dyah Esti Imaniar, Impian Nopitasari, dan Rizka Nur Laily Muallifa akan saling melempar kisah melakoni diri sebagai perempuan-perempuan ingin punya sikap dan pikiran sendiri.

Diskusi Kecil Pawon
“Nanti Kita Julid Tentang…”
Sabtu, 18 Mei 2019 | Pukul 15.00 – Buka Puasa
Sesi 1 15.15 – 16.00 WIB
Perempuan Berbahaya
Oleh : Esty Dyah Imaniar, Impian Nopitasari, Rizka Nur Laily Mualifa
Sesi 2 16.00-16.45 WIB
Yang Seru atau Seru dalam Sastra
Oleh : Fanny Chotimah, Setya Ningsih, Liswindio Apendicaesar
Sesi 3 16.45-17.30 WIB
Sastra Kutipan
Oleh : Naimatur Rafiqoh, Susantini, Eko Setyawan


 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X