Membaca Puisi Membaca Gunung Api di Tembi

Kompas.com - 17/06/2019, 21:21 WIB
DaladiDok. Tembi Daladi

YOGYAKARTA, KOMPAS.com--Iman Budhi Santosa seorang penyair dari Yogya, yang terus aktif menulis puisi sejak awal tahun 1970 semasa Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu paranggi, sampai sekarang masih terus menulis puisi.

Ia akan tampil membacakan puisi karyanya bersama sejumlah penyair lain dari berbagai kota di Jawa dan luar Jawa dalam acara Sastra Bulan Purnama edisi 93, Rabu, 26 Juni 2019, pkl. 19.30 di Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Tajuk dari Sastra Bulan Purnama edisi 93 ‘Membaca Puisi Membaca Gunung Api’, yang diisi peluncurkan antologi puisi berjudul ‘Cincin Api’, yang ditulis oleh 34 penyair dari berbagai kota di Indonesia. Daladi Ahmad, seorang penyair dari Magelang, yang sehari-harinya sebagai guru SMP di Ngluwar, Magelang, akan membawakan 2 lagu puisi karyanya. Daladi memng sudah sering tampil di Sastra Bulan Purnama.

Seorang penyair dari Riau, Panggung Toktan namanya, akan menampilkan musikalisasi puisi, dan seorang penampil dari Sumatra barat akan menyajikan satu nomor pantomin. Para pembaca lainnnya datang dari berbagai kota di Indonesia, Dheni Kurnia, Aris Abeba, Tien Marni (Riau), Syarifuddin Arifin, Moh.Ibrahim Ilyas, Endut Ahadiat, Hermawan (Sumbar), Amrizal (Bengkulu), Anther Panther Olii (Manado), Umi Risa (Jawa Barat), Suharmono (Jawa Timur), Tjahjo Widarmanto (Ngawi), Nia Samsihono (Jakarta) dan Choen Supriyatmi (Yogyakarta) akan membacakan puisi karya Bambang Widiatmoko. Dua penyair tamu, Jassinsalleh dan AC.Jeffry (Malaysia) akan ikut tampil membaca puisi.

Iman Budhi Santosa, selaku kurator buku puisi ‘Cincin Api’ ini mengatakan, antologi puisi bertemakan ‘Erupsi dan Mitos Gunung Berapi ini’ sejumlah penyair justru mengangkat tema yang berkaitan dengan Gunung Merapi. Dengan adanya perhatian seperti itu Merapi jadi terkesan memperoleh posisi ‘istimewa’.

“Padahal, keistimewaan seperti dimiliki Merapi dimungkinkan juga terdapat pada gunung berapi lain yang masih aktif di Indonesia dalam bentuk yang berbeda. Seperti Gunung Kelud, Semeru, Bromo, Galunggung, Pangrango, Tangkubanprahu, anak Krakatau, Kerinci, Sinabung, Soputan, Rinjani, Tambora dan lain-lain’, ujar Iman Budhi Santosa.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, Sastra Bulan Purnama sepanjang tahun 2019 akan diisi peluncuran antologi puisi, baik antologi tunggal karya seorang penyair maupun antologi puisi bersama.

"Selain antologi puisi, juga akan diluncurkan kumpulan cerpen karya beberapa cerpenis perempuan dari Yogyakarta,” ujar Ons Untoro.

Sastra Bulan Purnama memang tidak hanya menampilkan puisi yang ditulis dalam bahasa Indonesia, tetapi juga puisi yang ditulis dalam bahasa Jawa, yang disebut sebagai geguritan.

“Sastra Bulan Purnama juga membuka kemungkinan puisi yang ditulis dalam bahasa lokal lainnya untuk dibacakan,” jelas Ons Untoro.

Tentu saja, selain puisi dan cerpen, Sastra Bulan Purnama terbuka juga meluncurkan karya novel, seperti bulan Februari 2019 lalu tiga novel karya Yudhistira Adinugara, Noorca Massardi, dan Ryani Massardi diluncurkan bersama, dalam bentuk dibacakan petikannya, atau diolah menjadi satu pertunjukan drama. Khusus novel karya Rayni Massardi diluncurkan secara surprise, karena penulisnya tidak diberi tahu bahwa novelnya akan diluncurkan bersama, sebab Rayni tahunya novelnya belum selesai. (*)

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X