Persiapan Pementasan I La Galaigo

Kompas.com - 28/06/2019, 19:11 WIB
Salah satu adegan I La Galigo saat pentas di Bali Dok. I La GaligoSalah satu adegan I La Galigo saat pentas di Bali
Penulis Jodhi Yudono
|

JAKARTA, KOMPAS.com--Melakukan suatu perjalanan untuk “sesuatu” selain alasan berlibur atau dinas kantor adalah kesempatan yang unik. Orang sering mengategorikannya sebagai ‘perjalanan riset’.

Dalam konteks kali ini, yaitu pementasan I La Galigo, “melakukan perjalanan” adalah inti. Bagaimana tidak, Sureq Galigo saja tidak merupakan suatu kitab utuh, melainkan tercerai-berai ada bagian yang dimiliki kolektor-kolektor pribadi dan ada yang sudah menjadi koleksi museum di luar negeri.

Untuk yang berada di dalam negeri, bagian-bagian dari kitab yang masih disimpan baik-baik ini, merupakan sesuatu yang sakral. Tidak sembarang waktu bisa dibuka atau diperlihatkan kepada sembarang orang.

“Izin” yang harus diperoleh bukanlah izin birokrasi pemerintah yang bisa selesai dengan sepucuk surat bermaterai, melainkan izin adat yang cukup berliku-liku dan harus melewati berbagai tahap.

Akhirnya Sampai ke Panggung (Perjalanan Rhoda Grauer, dramaturg I La Galigo)

Indonesia bukanlah sesuatu yang terlalu asing untuk Rhoda Grauer, seorang New Yorker yang sudah menetap di Indonesia dan juga merupakan salah satu pendiri Yayasan Kelola. Ia pertama kali mendengar Sureq Galigo pada akhir 1990 ketika melakukan penelitian untuk film tentang Bissu.

Penasihatnya di Sulawesi Selatan mendukung ide film ini sepanjang subjeknya diteliti secara cermat dan diperlakukan dengan bermartabat. “Untuk menghargai peran penting Bissu secara budaya,” ujarnya,

“Anda harus paham epik besar Bugis, Sureq Galigo. Bissu melacak asal-usul mereka sampai ke epik ini dan memperlakukannya sebagai benda keramat, dan sampai saat ini mereka masih menjalankan upacara yang digambarkan di naskah itu.”

Begitu bersemangatnya Rhoda untuk membaca Sureq Galigo, dan ia pun terhenyak ketika kenyataan mengatakan ‘mustahil’. Dengan perkecualian tiga bab yang sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia, tidak satu bagian pun dari manuskrip ini, total 6.000 halaman folio lebih, yang sudah diterjemahkan dari bahasa Bugis Kuno arkaik ke bahasa modern.

Ada ringkasan sepanjang 1.000 halaman yang sudah diterbitkan dalam bahasa Belanda dan disunting dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dengan bahasa Indonesianya yang tak seberapa dan dibantu banyak teman, ia berhasil membaca sebagian besar apa yang ada.

Sedikit demi sedikit, ia mulai pergi menjumpai pakar Galigo dari Indonesia dan luar negeri yang bermurah hati berbagi pengetahuan mereka tentang puisi epos ini, mereka memberinya ringkasan cerita dalam bahasa Inggris, membagi makalah penelitian mereka, dan mengundangnya ke pertemuan-pertemuan akademis di mana ia dapat berjumpa dengan para pakar lainnya.

Untungnya, ia kemudian diperkenalkan kepada Alm. Drs. Muhammad Salim, penerjemah paling terkemuka Sureq Galigo di dunia. Alm. Drs.Salim-lah yang kemudian berperan sebagai penasihat utama teks dan cerita, mengatakan bahwa kurang dari 100 orang di Sulawesi Selatan yang masih bisa membaca dan memahami manuskrip kuno itu.

Dalam perjalanannya menggali lebih dalam Sureq Galigo, timbul pemikiran untuk mengangkatnya menjadi sebuah pementasan. Ia pun menyambangi temannya, Restu I. Kusumaningrum direktur artistic Yayasan Bali Purnati, untuk bekerja sama mengangkatnya ke pentas. Keduanya sepakat untuk mengajak Robert Wilson sebagai sutradara.




25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X