Persiapan I La Galigo Sebelum ke Panggung

Kompas.com - 28/06/2019, 19:19 WIB
IlusterasiDok. I La Galigo Ilusterasi

JAKARTA, KOMPAS.com--Maka diputuskanlah, tim produksi harus Ke Tanah Asal La Galigo (Perjalanan Restu I, Kusumaningrum, Direktur Artistik Bali Purnati).

Pada suatu hari di bulan Maret 2001, Restu mengadakan perjalanan ke Cerekang dan Malili untuk mengadakan pertemuan dengan tetua Luwuq, tanah Sureq Galigo.

Ayahnya  berkali-kali mengingatkan bahwa selain meminta izin dari para akademisi, juga amat penting untuk meminta izin dan pemberkatan dari leluhur di Luwuq. Maka, Restu dan Rhoda pun pergi diantar seorang pemuka adat muda dari Luwuq.

Luwuq adalah tempat yang dianggap sebagai tempat bermulanya kebudayaan Bugis. Perjalanannya delapan jam melalui jalan berliku-liku.

Begitu tiba mereka mengunjungi istana di mana para keturunan raja Luwuq tinggal dan memegang kekuasaan adat. Yang terpenting, mereka berhasil bertemu dengan tetua adat yang dengan suka-cita memberikan pemberkatan, malah mereka berkata, “Kami telah menunggu kalian.”

Selain itu, Restu kemudian mendapatkan tiga mitra kerja luar biasa dari perjalanan tersebut. Ibu Ida Joesoef M. dan Ibu Andi Ummu Tunru, yang masing-masing mengelola sanggar tari di Sulawesi Selatan, dan komposer Rahayu Supanggah dari Solo.

Dalam tiga tahun persiapan mereka harus terus menjelajah seluruh Sulawesi Selatan, dari Makassar sampai Luwuq. Perjalanan yang  cukup panjang dan melelahkan, tapi sepadan, apalagi ketika sejumlah benih yang ditanam untuk memicu ketertarikan pada mitos Bugis kuno sekarang telah bertunas, dan seniman muda yang tinggal di daerah telah memiliki kesempatan untuk memperluas diri di tingkat dunia.

Perjalanan Belum Selesai

Memakan waktu hampir tiga tahun untuk persiapan sebelum akhirnya I La Galigo mementaskan world premiere pada 2004 di Esplanade Theaters on the Bay.

Seakan takdir, pementasan ini terus melakukan perjalanan sampai sekarang, menyambangi sembilan negara dan 12 kota besar di dunia. Pada 2019 ini untuk kedua kalinya, dengan jarak kurang lebih 14 tahun, I La Galigo kembali ke Jakarta.

Seakan mengingatkan dan mengajak kembali generasi muda Indonesia untuk tidak melupakan suatu budaya agung bangsa sendiri.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X