Kunni Masrohanti Menghidupi Acara Baca Puisi

Kompas.com - 11/07/2019, 15:23 WIB
Kunni Masrohanti Dok. Kunni MasrohantiKunni Masrohanti
Penulis Jodhi Yudono
|

Ada yang menarik perhatian penonton pada perhelatan Panggung Penyair Asia Tenggaraaa yang berlangsung di Kudus, Jawa Tengah pada Sabtu malam 29 Juni 2019.

Magnit yang menyedot penonton untuk terpaku di bangku masing-masing hingga akhir acara itu berasal dari pembvawa acara perempuan yang menggunakan busana dan bahasa Melayu yang luwes.

"Encik-encik,  tuan-tuan dan puan-puan,  kecik tak disebut name besar tak disebut gelar, kite bersame dalam helat luar biase,  Panggung Penyair Asia Tenggaraaa..." begitu ucapnya saat membuka acara.

Panggung puisi yang biasanya adem ayem itu pun jadi pecah oleh gaya dan tutur katanya yang mampu membangun suasana dan menerbitkan kegembiraan bagi yang hadir.

Dia lah KUNNI MASROHANTI. Perempuan kelahiran Bandar Sungai, Siak Sri Indrapura, Riau, 11 april 1974. Maka mafhumlah kita setelah mengenalnya lebih dekat, mengapa dia setangkas itu dalam berkata-kata dan membangun suasana. Malam itu, Kunni Masrohanti menghidupi acara baca puisi yang biasanya sepi.

Kunni, demikian dia biasa disapa, adalah penulis puisi dan naskah drama. Karya puisinya tergabung dalam puluhan antologi puisi. Antara lain: Senandung Tanah Merah (2016), Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta (2016), Luka Pidie Jaya 6,5 SR (2017), Boetenzorg (2017), Mengunyah Geram -seratus puisi menolak korupsi- (2017), Antologi Moonson, Korsel (2017), Senyuman Lembah Ijen (2018), Wangian Kembang (Malaysia, 2018), Jazirah Sastra (2018), dll.

Sementara puisi tunggalnya adalah: Sunting (2011), Perempuan Bulan (2016), dan Calung Penyukat (2019). Sementara buku kajian ilmiah yang dia tulis adalah: Sekelumit Kisah Kerajaan Gunung Sahilan (buku sejarah, 2018), Harmoniasi Masyarakat Rimbang Baling dan Alam (buku budaya dan tradisi, 2018), Cipang Warisan Leluhur yang (hilang) Nyata (buku budaya, tradisi, 2019).

Karyanya juga dimuat di berbagai media di Indonesia. Tak cuma itu, dia juga kerap diundang dalam berbagai kegiatan sastra nasional dan internasional.

Kunni juga tercatat sebagai peraih Anugerah Sagang 2011 (buku puisi Sunting). Penerima Anugerah Pemangku Seni Tradisional dari Gubernur Riau tahun 2014, Anugerah Baiduri dari PRBF Fondation tahun 2013 (kategori sastrawati). Pendiri dan Pembina Komunitas Seni Rumah Sunting (2012). Ketua Wanita Penulis Indonesia Riau (2018-sekarang), Ketua Penyair Perempuan Indonesia (2018-sekarang).

Perempuan yang bekerja di Harian Riau Pos ini mengaku, dirinya bukanlah Master of Ceremony (MC) profesional. "Jujur aku bukan MC. Aku murni orang panggung,  orang teater dan pembaca puisi.  Pernah juga jd MC tapi acara kecil-kecilan seperti syukuran di kantor.  Ketika ditawari jd MC oleh panitia Pertemuan Penyair Nyusantara XI,   aku menolak.  Tapi panitia percaya aku bisa," ungkap Kunni buka kartu.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X