Festival Sastra Bengkulu 2019 Digelar September

Kompas.com - 22/07/2019, 09:05 WIB
Panitia FSB saat mempersiapkan berbagai keperluan terkait FSB 2019 di Kalibata City, Sabtu, 13 Juli 2019. Pilo PolyPanitia FSB saat mempersiapkan berbagai keperluan terkait FSB 2019 di Kalibata City, Sabtu, 13 Juli 2019.
Penulis Jodhi Yudono
|

JAKARTA, KOMPAS,com--Untuk kedua kalinya Festival Sastra Bengkulu (FSB) akan digelar pada 13-15 September 2019 di Bengkulu.

Jika pada FSB 2018 lebih fokus dengan menghadirkan para penyair dalam dan luar negeri, kali ini festival meluaskan peserta dengan menghadirkan para penulis dan sastrawan nasional dan mancanegara, seperti penyair, penulis cerpen, novelis, dan esais.

"Kegiatan ini diberi tajuk Bengkulu Writers Festival (BWF). Pendaftaran peserta sudah kami buka sejak awal Juli dan sudah puluhan orang mengirim karya," kata Ketua FSB  BWF, Willy Ana, di Jakarta, Minggu, 14 Juli 2019.

Pengumuman pendaftaran peserta dan pengiriman karya bisa disimak di blog resmi FSB-BWF di www.sastrabengkulu.xyz.

FSB-BWF 2019 mengetengahkan tema Sastra, Tradisi dan Anak Muda. Tema itu dipilih untuk memberi ruang seluas-luasnya kepada anak muda untuk menulis dan mengapresiasi sastra.

Tema tersebut juga memperkuat pesan agar anak muda tidak melupakan tradisi dan budayanya. Maka itu, karya sastra, anak muda dan tradisi adalah hal tak terpisahkan, ujar Iwan Kurniawan, putra Bengkulu yang menjadi kurator sekaligus panitia pengarah acara ini.

Kegiatan ini dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama ditujukan untuk peserta sastrawan dan penulis nasional dan luar negeri. Panitia mengundang penulis dengan proses kurasi. Para penulis dan sastrawan disyaratkan mengirim karya kepada panitia, lalu karya-karya itu akan diseleksi oleh tim kurator yang terdiri dari para sastrawan nasional yakni Kurnia Effendi, Iyut Fitra, dan Iwan Kurniawan. Dari sana panitia akan memilih 50 penulis dengan karya terbaik untuk mengikuti festival, ujar Ana, penulis sastra asal Kedurang, Bengkulu Selatan, itu.

Kelompok kedua ditujukan bagi para para pelajar dan mahasiswa Bengkulu yang berusia maksimal 25 tahun. Penulis muda, mahasiswa dan pelajar kami persilakan untuk mendaftar dengan membaca informasi di blog resmi FSB, kata Ana. Penjaringan penulis muda itu akan dilakukan oleh kurator nasional, antara lain, Ahmadun Yosi Herfanda.

Iyut Fitra, salah satu kurator acara ini, mengatakan kurasi akan dilakukan dengan ketat. Sebab, mereka dihadapkan pada kuota peserta yang terbatas. Dengan kuota peserta yang terbatas, yakni 50 orang dari dalam dan luar negeri, maka proses kurasi akan berjalan ketat. Semoga 50 karya terpilih tersebut adalah karya-karya terbaik tahun ini, ujar Iyut, penyair nasional yang telah menerbitkan sejumlah buku puisi.

Festival Sastra Bengkulu pertama pada 2018 dianggap sukses oleh berbagai pihak. Para sastrawan yang hadir ke Bengkulu pada FSB 2018 memberi apresiasi, bukan hanya kepada panitia juga kepada Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah beserta jajarannya di Pemerintah Provinsi Bengkulu, yang memberi dukungan maksimal kegiatan itu.

Peserta juga memberi apresiasi kepada Bupati Kepahiyang Hidayatullah Sahid, yang menjadi tuan rumah penutupan FSB 2018. Kami berharap Bapak Gubernur dan jajarannya kembali memberi dukungan dan membantu kesuksesan FSB 2019, kata Ana.

Sastrawan Kurnia Effendi menambahkan, Festival Sastra Bengkulu sekali melangkah tak surut ke hulu. Literasi di ranah sejarah pendiri Republik ini, selayaknya terus digali, ujar Kurnia. Tahun ini kita hendak menggelorakan potensi penulis muda Bengkulu. Ayo ke Bengkulu, kata Kurnia yang belum lama ini mengikuti residensi sastrawan di Belanda.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X