Rekayasa di Jagat Hiburan, Fenomena atau Kebutuhan? - Kompas.com

Rekayasa di Jagat Hiburan, Fenomena atau Kebutuhan?

Andi Muttya Keteng Pangerang
Kompas.com - 16/03/2017, 12:01 WIB
Shutterstock /Ilustrasi

Tentang bagaimana kemudian mengolah atau mewujudkan kebutuhan dasar tersebut, lanjutnya, itu tergantung pada kepribadian manusianya dan juga pengaruh lingkungan.

Niniek mengatakan, beberapa ahli menyebutnya dengan konvergensi, bahwa memang ada bawaan dari lahir, namun pengaruh lingkungan juga sangat besar.

"Tergantung dari bagaimana dia dibesarkan oleh lingkungannya. Apakah dia menjadi orang yang gampang putus asa, makanya cenderung mencari jalan pintas. Ataukah dia selama ini selalu gagal hingga berpikir begitu caranya. Ada sejuta cerita untuk itu," ucap Niniek.

"Manusia itu dikasih Tuhan akal yang seperti ubi jalar. Ketika dia tepentok, tergantung di mana ia diarahkan dan dibesarkan. Apakah dia terasah untuk kemudian mencari ke kanan atau ke kiri, atau berhenti di sana. Tapi semua sama aja, mau di lingkungan hiburan, politik atau bisnis," tuturnya lagi.

Seperti yang diungkapkan Maman Suherman bahwa ia menemukan sebagian besar rekayasa tersebut idenya muncul tak langsung dari sang artis, melainkan orang-orang di sekelilingnya.

"Pernah saya ditawari 'nih ada artis baru saya nih, tapi kan dia belum terkenal, nanti kita isukan deh dengan yang sudah punya nama biar bisa masuk infotainment'. Dia nobody ya dia harus cari somebody sebagai cantolan," ujar Maman.

Namun, dari kacamatanya sebagai psikolog, Niniek menyebut perilaku rekayasa itu bukanlah sebuah fenomena, melainkan sangat individual.

Meski, sudah rahasia umum bahwa hal tersebut tersebut sudah banyak terjadi di dunia hiburan sejak bertahun-tahun lalu.

"Kalau saya bilang itu sebetulnya bukan fenomena. Kalau fenomena itu artinya sudah gejala umum. Tapi ini tidak, kalau ini menurut saya individual sekali. Semua orang punya kebutuhan itu," ujarnya.

"Jadi janganlah ini dianggap fenomena umum. Karena saya kan psikolog sosial, saya tidak mengatakan itu gejala sosial," tambah Niniek.

Page:
PenulisAndi Muttya Keteng Pangerang
EditorKistyarini
Komentar
Close Ads X