Cerita Perjalanan Cut Mini di Dunia Peran, "Kompas" Minggu (19/3/2017) - Kompas.com

Cerita Perjalanan Cut Mini di Dunia Peran, "Kompas" Minggu (19/3/2017)

Fransisca Romana Ninik
Kompas.com - 18/03/2017, 12:34 WIB
KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Cut Mini saat menerima piala citra Festival Film Indonesia 2016 di Taman Isamil Marzuki, Jakarta, Minggu (6/11/2016). Ia meraih penghargaan pemeran utama wanita terbaik FFI 2016 melalui film Athirah.

JAKARTA, KOMPAS - Bagi yang sudah menonton film Athirah, tentu tahu siapa pemeran utamanya. Cut Mini Theo (43), yang berkat peran tersebut, berhasil membawa pulang Piala Citra pertamanya untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik.

Ditemui di kediamannya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Cut Mini tampak santai. Dia pun antusias bercerita tentang berbagai pencapaiannya di dunia seni peran, termasuk beragam pelajaran yang dia petik di tengah perjalanannya itu dan mimpi-mimpinya tentang perfilman Indonesia.

“Untuk pemain film otodidak seperti saya, memerankan Athirah butuh waktu yang banyak untuk belajar. Tidak mudah,” ujarnya.

Cut Mini memulai semuanya tahun 1989, saat menjadi model foto. Ketika itu dia masih sekolah.

Sang ibunda menegaskan bahwa dia tidak boleh sekalipun melalaikan tugasnya sebagai pelajar. “Di situ saya belajar mengelola waktu,” tutur Mini.

Perjalanan di dunia model itu mengantar dia merambah dunia-dunia lainnya. Bermain sinetron, menjadi pembawa acara, hingga akhirnya bermain film.

Justru berbekal ketidaktahuannya, Mini bisa belajar banyak dari orang-orang di sekitarnya. Gratis pula.

Sampai kemudian namanya melambung berkat perannya di film Arisan! tahun 2004. Selanjutnya Mini turut bermain dalam sejumlah film, seperti Laskar Pelangi (2008), Arisan! 2 (2011), Koala Kumal (2016), Ini Kisah Tiga Dara (2016), dan Athirah (2016).

“Saya paling suka prosesnya. Mulai dari reading, mengatur blocking, menyamakan irama dengan pemain lain. Jika proses itu sudah matang, saat pengambilan gambar akan mengalir begitu saja,” kata putri bungsu T Usman Abdullah dan Cut Dermawan ini.

Dengan setia di dunia seni peran, dia setidaknya bisa berkontribusi dalam memajukan perfilman Indonesia melalui film-film yang baik dan mendidik bagi masyarakat.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Cut Mini
“Makanya, ayo nonton film Indonesia. Jangan sampai film Indonesia mati lagi gara-gara kita. Bukan gara-gara enggak ada yang bikin, tapi enggak ada yang nonton,” ujarnya. Athirah, bukan langkah terakhir Cut MIni yang cinta dengan dunia film.

Simak Cut Mini berbagi cerita tentang dunianya, dalam Rubrik Gaya Hidup di Kompas Minggu, Minggu (19/3/2017). Anda bisa pula mengakses Kompas versi digital di Kompas.ID

Ikuti pula cerita masyarakat urban berburu piringan hitam di tengah era digital saat musik bisa dinikmati hanya dengan menyentuh layar gawai.

Ada pula ulasan film Bid'ah Cinta, obsesi 28 tahun Martin Scorsese dalam film Silence, dan film yang sedang ramai diperbincangkan, Beauty and The Beast.

Sebagai teman pada hari Minggu, ikuti jalan-jalan ke surga Riau, Pulau Rupat dan petualangan lidah dari kuliner Perancis hingga festival makanan di Tegal.

Baca pulaSaat Generasi Digital Terkesima Teknologi Lawas Piringan Hitam

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisFransisca Romana Ninik
EditorAmir Sodikin
Komentar
Close Ads X