Taman Bermain Lala Timothy, dari Film Banda hingga Wiro Sableng - Kompas.com

Taman Bermain Lala Timothy, dari Film Banda hingga Wiro Sableng

Fransisca Romana Ninik
Kompas.com - 12/08/2017, 17:43 WIB
Sheila Timothy - Produser FilmKOMPAS/YUNIADHI AGUNG Sheila Timothy - Produser Film

JAKARTA, KOMPAS.com - Sudah hampir 10 tahun, produser film Sheila Timothy menyapa penikmat film Indonesia melalui sejumlah karyanya. Bukan dunia yang menjadi cita-citanya sejak semula, tetapi dia justru kini sangat mencintainya.

“Saya senang berada di lokasi shooting. Kalau di belakang meja, gimana gitu. Lapangan sudah jadi seperti playground, taman bermain saya,” kata Lala saat ditemui Kompas, Kamis (10/8/2017).

Lala, panggilan akrabnya, baru saja selesai memproduksi film Banda, The Dark Forgotten Trail yang rilis di bioskop pada 3 Agustus 2017. Film dengan format feature dokumenter ini banyak mendapat tanggapan positif.

“Kami ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk melihat kembali sejarah, bukan untuk dilupakan atau ditutupi, tetapi kita pelajari sehingga tidak mengulang lagi kesalahan di masa lalu. Banyak cerita yang bisa disampaikan tentang Banda. Di sana kolonialisme lahir, tetapi juga semangat kebangsaan. Film ini bisa jadi lebih utuh, bukan sekadar glorifikasi masa lalu,” tuturnya.

Kini Lala tengah sibuk mempersiapkan film Wiro Sableng, salah satu tokoh pahlawan fantasi yang punya banyak penggemar. Dia tertarik mengangkat film ini karena sosok si pendekar kapak 212 ini merupakan representasi orang Indonesia.

“Saat melawan penjahat, dia bisa terpukul atau terluka tapi bisa bangkit lagi. Itu saya rasa esensi Wiro Sableng yang menarik dan relevan dengan masa kini,” ujar Lala.

Lala sangat bersyukur bisa menekuni film sebagai minat dan gairah hidupnya. Meskipun pernah istirahat dari dunia kerja dan menjadi ibu rumah tangga selama 10 tahun, dia kembali dengan penuh semangat untuk memproduksi film-film yang menghibur masyarakat Indonesia.

Mulai dari film Pintu Terlarang, Modus Anomali, hingga Tabula Rasa, kini Lala merambah film dokumenter dan fantasi komedi.

Di tengah keterbatasan infrastruktur yang mendukung beragam genre film, terutama jika dibandingkan dengan negara lain, Lala ingin terus bisa membuat film yang berkualitas.

“Ada film-film yang penting untuk bangsa, masyarakat, dan generasi muda. Sayangnya keterbatasan layar masih jadi momok kita. Problem lain adalah pendidikan film karena kita juga kekurangan pekerja film profesional. Sekolah film kita terbatas, tak lebih dari 10 padahal di negara lain sudah ratusan,” katanya.

Meski demikian, dia tetap optimistis dengan kemajuan film Indonesia. Melihat pangsa pasar tahun 2015-2016, terdapat kenaikan 30 persen pangsa pasar karena jumlah penonton film box office tinggi.

“Cerita kita banyak, lho. Ada sejarah, budaya, legenda. Itu bisa dijadikan bahan kreatif yang tidak habis-habis untuk film,” lanjut Lala.

Cerita tentang Lala pun belum habis di sini, simak lebih lanjut di Rubrik Gaya Hidup Kompas Minggu 13 Agustus 2017 dan juga di Kompas.id.

Baca pula laporan tentang ekspresi kekinian memeringati Hari Kemerdekaan, ulasan pentas Teater Mandiri, melongok isi dan kehidupan bangunan tua di Venesia, Italia, dan icip-icip rujak cingur legendaris di Surabaya. 

PenulisFransisca Romana Ninik
EditorAmir Sodikin
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM