DKJ Kembangkan Tari Melalui JDMU - Kompas.com

DKJ Kembangkan Tari Melalui JDMU

Jodhi Yudono
Kompas.com - 25/10/2017, 08:24 WIB
Komite Tari DKJ mengembangkan platform bernama Jakarta Dance Meet Up (JDMU) yang dilakukan secara berkala sejak 2017. Iwan Setiawan Komite Tari DKJ mengembangkan platform bernama Jakarta Dance Meet Up (JDMU) yang dilakukan secara berkala sejak 2017.

JAKARTA, KOMPAS.com--Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai mitra strategis Gubernur DKI Jakarta dalam merumuskan kebijakan bagi pengembangan dan penciptaan kreativitas seni di Ibukota berupaya membangun iklim yang inspiratif terhadap penciptaaan dan apresiasi karya seni tari yang bermutu, baik bagi pelaku seni tari maupun masyarakat. Untuk melaksanakan tujuan tersebut, Komite Tari DKJ mengembangkan platform bernama Jakarta Dance Meet Up (JDMU) yang dilakukan secara berkala sejak 2017.

JDMU merupakan upaya untuk memetakan, memfasilitasi, dan merangkul komunitas tari di Jakarta. Platform ini memberikan ruang apresiasi dan edukasi yang berkelanjutan bagi pelaku seni tari Ibukota yang minim kesempatan. Memiliki tujuan bagi kemajuan seni tari, JDMU bisa dilihat sebagai bentuk penghargaan atas keragaman seni tari yang tumbuh di Jakarta. Tidak berhenti di sana, JDMU juga menjadi saluran yang tepat untuk berjejaring antar komunitas maupun sanggar yang memiliki karakter berbeda.

Setelah sukses dengan penyelenggaraan yang pertama di bulan Maret, lalu  yang kedua di bulan  Agustus,  sekarang di Bulan oktober ini,  DKJ kembali menggelar perhelatan JDMU edisi ketiga tepatnya 26 Oktober 2017 di Gedung Kesenian Jakarta.

Pada JDMU ke #3 ini akan tampil komunitas tari dari beragam genre.  JDMU #3 ini  akan menyajikan karya    sejumlah koreografer  yakni  Alisa Soelaeman -komunitas tari  Alisa Soelaeman Dance Project (ASDP),   Popo Julihartopo-Dance Melayu Bangka Belitung (DMB), Josh Marcy Putra Pattiwael dan Febyane S-Indonesian Dance Theatre (IDT),   Yosep Prihantoro Sadsuitubun - Kelompok Insan Pemerhati Seni (KIPAS) dan Dwi Yuliyaningrum, Dwi Yuliyaningrum-Sanggar Tari Paduraksa Tebet.

Adapun tema-tema yang ditawarkan sangat beragam, aktual sekaligus personal. Seperti  Alisa Soelaeman yang mempertanyakan  cinta melalui karya berjudul What are we talking about?, lalu juga ada yang terinspirasi dari puisi karya WS Redra-Sajak Orang Miskin menjadi olah gerak tari berjudul A Walk at Pedestrian, yang merupakan karya Josh Marcy Putra Pattiwael., persoalan lingkungan yang rusak oleh manusia jadi perhatian Popo Julihartopo-Dance Melayu Bangka Belitung (DMB), tidak ketinggalan, tema emansipasi wanita  disajikan Yosep Prihantoro Sadsuitubun  sedangkan Dwi Yuliyaningrum, Dwi Yuliyaningrum   memilih menampilkan karya yang bernafaskan budaya betawi dan madura.

Semua komunitas terpilih tidak hanya mempresentasikan kreasinya dihadapan penonton tetapi juga di hadapan dua pengamat, Adinda Luthvianti (Anggota Komite Teater DKJ) dan Jefriandi Usman (koreografer). Setelah tampil, semua komunitas tari ini kemudian akan menyampaikan aspek kreatifitas, estetika hingga manajemen pengelolaan setiap karya keesokan harinya.  Pada momen ini para pengamat akan memberikan evaluasi kepada masing-masing karya secara mendalam dan simultan. Sesi ini akan dilakukan secara bersamaan, sehingga masing-masing komunitas tari akan saling belajar dari berbagai masukan yang berlangsung

Komite Tari DKJ melihat bahwa pengembangan seni tari khususnya di Jakarta tidak bisa dimonopoli oleh satu pihak saja. Memajukan kreatifitas dan apresiasi pada industri tari merupakan tanggungjawab semua pemangku kepentingan yang ada di Ibukota tanpa terkecuali. Sehingga perlu adanya kerja bersama yang berkelanjutan untuk terus memberikan wadah seluas-luasnya kepada semua pelaku seni tari yang ingin berkembang.

Karenanya konsep penyelenggaraan JDMU juga menggandeng langsung para komunitas dan sanggar tari di Jakarta. Keterlibatan mereka sudah dimulai sejak tahap awal persiapan, pembahasan konsep hingga pelaksanaannya. Pelaksanaan JDMU selama tahun 2017 akan melibatkan puluhan komunitas tari yang bersedia tampil dalam ajang ini. Pada setiap perhelatan JDMU, setiap komunitas yang terpilih akan berbeda di tiap edisi. Hartati, selaku Ketua Komite Tari DKJ mengungkapkan, “Bagi DKJ, komunitas tari, sanggar, sekolah tari informal, atau grup kecil dengan genre tari apa saja memiliki posisi strategis untuk terus menumbuhkan semangat berkreasi sekaligus berekspresi seni tari di masyarakat”.

Mengenai JDMU ini, Rusdy Rukmarata selaku anggota komite tari DKJ menggambarkan sebagai “Young talents of today will be legends of tomorow”

Penyelenggaraan JDMU selalu terbuka bagi semua komunitas, sanggar dan sekolah tari yang ingin bertemu, berkolaborasi dan bersama memajukan tari Indonesia. Sementara masyarakat pecinta seni tari Indonesia dapat menikmati semua penampil yang ada di JDMU secara gratis.

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) adalah salah satu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat seniman dan dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada tanggal 7 Juni 1968. Tugas dan fungsi DKJ adalah sebagai mitra kerja Gubernur Kepala Daerah Propinsi DKI Jakarta untuk merumuskan kebijakan guna mendukung kegiatan dan pengembangan kehidupan kesenian di wilayah Propinsi DKI Jakarta. Anggota Dewan Kesenian Jakarta diangkat oleh Akademi Jakarta (AJ) dan dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta. Pemilihan anggota DKJ dilakukan secara terbuka, melalui tim pemilihan yang terdiri dari beberapa ahli dan pengamat seni yang dibentuk oleh AJ. Nama-nama calon diajukan dari berbagai kalangan masyarakat maupun kelompok seni. Masa kepengurusan DKJ adalah tiga tahun.

PenulisJodhi Yudono
EditorJodhi Yudono

Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM