Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Belajar Membuat Wayang dan Topeng Bersama Dua Maestro di Kulfest 2017

Ada Sagio, seniman penyungging wayang kulit sejak 1974, dan ahli waris kreasi topeng tari, Pono Wiguna atau Ki Supo.

Pada hari kedua Kulfest 2017, Sabtu (25/11/2017), Kompas.com berkesempatan menikmati keseruan belajar membuat wayang kulit serta topeng bersama dua maestro itu.

"Kita pakai kertas bekas ya. Ini disobek pakai tangan karena kalau pakai gunting ada ketebalan yang nanti bikin (tempelannya) tidak rata," ucap Ki Supo sambil menyobek-nyobek kertas pembungkus semen.

"Hari ini kita akan membuat topeng, cerita Ramayana. Tokoh-tokoh binatang dan tokoh-tokoh raksasa," ujarnya lagi.

Ki Supo mulai melapisi cetakan topeng dengan potongan-potongan kertas tadi. Ia mengarahkan cara mengelem kertas yang benar, jangan sampai permukaan cetakan terkena lem.

Sambil memperagakan, ia menjelaskan bahwa bila permukaan cetakan sudah tertutup seluruhnya, tinggal menebalkan lapisan menggunakan teknik sekali tempel atau lima lapis.

"Sampai ketebalannya minimal 15-17 lapis. Setelah itu langsung dilepas dari cetakannya," ujarnya.

Ki Supo menambahkan, perlu digunakan kawat melingkar pada bagian dalam topeng. Selain itu, ia juga menunjukkan cara membuat lubang topeng untuk mata dan mulut.

"(Kawat) biar fleksibel kalau dipakai oleh orang. Jika mukanya berukuran besar, bisa dikecilin, sebaliknya juga begitu," katanya.

"Setelah itu buat karakternya dengan serbuk gergaji. Itu disaring supaya lembut, yang lembutnya dicampur lem. Terus di tutup kertas lagi setelah itu finishing dengan mewarnainya," sambung Ki Supo.

Sementara di samping kiri Ki Supo ada Sagio yang juga sibuk memberi pengarahan kepada beberapa orang peserta lokakarya.

Ia mengeluarkan tiga tokoh wayang kulit berukuran kecil yang sudah memiliki pola, besi-besi kecil, dan palu sebagai alat pahat.

Wayang itu terbuat dari kulit kerbau yang sudah diawetkan dan telah melalui proses pemutihan dengan bahan alami. Sagio menjelaskan, awalnya disiapkan gambar terlebih dulu membuat pola pada kulit dengan cara dipahat.

"Itu untuk membuat kesan ada bayangannya. Di Jawa, kalau ingin menonton wayang bisa dilihat dari belakang layar kelihatan bayangannya. Namun, Kalau ingin dilihat dari warna wayangnya, bisa dilihat dari depan," kata Sagio.

Kompas.com pun ikut mencoba memahat wayang kulit tersebut mengikuti pola yang sudah ada. Kulit diletakkan pada wadah kayu tebal dan peserta menancapkan besi kecil ke kulit lalu memukulnya pelan dengan palu kayu.

"Cara pegang besinya begini ya (jari telunjuk hingga kelingking disejajarkan dan diperkuat dengan jempol). Nanti kelingking yang menahan kulit pas besinya ditarik," ujar Sagio.

Ia lalu mengingatkan agar berhati-hati pada ujung besi yang runcing.

"Setelah itu selesai, nanti diwarnai kemudian selesai. Dan terakhir dipakai tangkaiannya," katanya.

Ki Supo merupakan cucu dan ahli  waris pembuatan topeng tari dari Ki Warso Waskito, satu-satunya pembuat topeng tari gaya Yogyakarta. Ia sudah membuat topeng sejak 1980-an.

Sementara Sagio sudah mencintai wayang kulit sejak umur 11 tahun. Beberapa karyanya menjadi koleksi mendiang Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri itu. Dalang terna Indonesia, Ki Hadi Sugito, juga menggunakan karya Sagio.

Kulfest 2017 yang berlangsung tiga hari, menghadirkan sejumlah pertunjukan seni tari baik  dari lokal maupun mancanegara. Salah satunya maestro tari Indonesia adalah Didik Nini Thowok.

Festival ini dikemas secara pop karena juga menampilkan beberapa musisi favorit Indonesia, ada Sheila On 7, Andien, Dewa Budjana feat Trie Utami, Endank Soekamti, Payung Teduh, hingga Gugun Blues Shelter.

https://entertainment.kompas.com/read/2017/11/26/151246710/belajar-membuat-wayang-dan-topeng-bersama-dua-maestro-di-kulfest-2017

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke