Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Dua Buku Geguritan di Sastra Bulan Purnama

YOGYAKARTA, KOMPAS.com--Sastra Bulan Purnama edisi 87, akan diie peluncuran 2 buku geguritan, yang ditulis oleh penggurit yang berbeda.

Buku berjudul ‘Pokokmen Semarangan’ ditulisan oleh Sulis Bambang, seorang penggurit dan penyair dari Semarang. Buku satunya berjudul ‘Wanodya’  karya 14 penggurit dari berbagai kota dan semuanya perempuan. Peluncuran akan dilakukan, Jumat 21 Desember 2018. Pkl. 19.30 di Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Kebetulan Sastra Bulan Purnama edisi 87 jatuh di Hari Ibu, dan sengaja menampilkan para perempuan  untuk membacakan karyaya. Kali ini, para perempuan menuilis puisi menggunakan bahasa Jawa dan disebut sebagai geguritan. Sulis Bambang memilih menggunakan dialek semarangan, sehingga nuansa bahasanya  terasa berbeda dengan bahasa Jawa Yogyakarta.

Para perempuan penggurit ini, selain menulis geguritan , juga menulis puisi yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa di antara mereka pernah tampil di Sastra Bulan Purnama, dan bukan hanya sekali, tetapi sudah beberapa kali, seperti Sus.S. Harjono, perempuan penyair dari Sragen, Resmiyati, perempuan penyair dari Klaten, Yanti.S.Ssatro, perempuan penyair dari Semarang, Sulis Bambang, Perempuan penyair dari Semarang, Ninuk Retno Raras perempuan penyair dari Yogya, Ely Widayati, perempuan penyair dari Nganjuk.

Beberapa nama yang geguritannya ada di dalam buku Wanodya, selain yang sudah disebutkan di atas, ialah, Endang Wahyuningsih, Esti Suryani, Puspo Endah, Suratmini, Tino Jooshe, Trinitya Kinasih, Windu Setyaningsih dan Yacinta Kusdaryumi Kurniasih.
Perihal buku puisinya berjudul ‘Pokomen Semarangan” Sulis Bambang, penggurinya menyampaikan penjelasan: “Bahasa Semarangan sebagai Bahasa Tutur, yang terkesan kasar, membawanya kedalam tulisan, terutama geguritan, tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri.

Walaupun geguritan tidak terikat guru lagu maupun guru wilangan, namun untuk menjadi enak dibaca kita tetap memperhatikan rima dan irama disamping pemilihan kata tetap kita perhatikan agar menjadi tulisan yang bisa disebut sebagai karya sastra”.

“Kumpulan gurit dengan dialek Semarangan  POKOKMEN SEMARANGAN ini sebuah pemantik untuk lahirnya Gurit Semarangan lain yang lebih baik. Harus diakui pemakaian bahasa yang terkesan kasar untuk Bahasa Jawa pada umumnya terutama Solo dan Yogya, menjadi hal yang biasa dalam dialek Semarangan” ujar Sulis Bambang.

Selain para penggurit, yang semuanya perempuan, akan tampil pula Arieyoko seorang penyair dari Bojonegoro yang akan membacakan puisi karya Sulis Bambang, dan performnace dari Bengkel Sastra Taman Maluku pimpinan Sulis Bambang.

Sanggarbambu dari Yogya akan mengolah geguritan, yang memiliki satu alur tema menjadi satu dramatic reading yang disutradarai oleh Achmad Masih, yang menggarap geguritan berjudul ‘Gurit Ibu’ karya Ninuk Retno Raras, ‘Kidung Biyung’ karya Puspo Endah, ‘Wanodya’ karya Suratmini, ‘Biyung’ karya Tino Joshe.

Ons Untoro selaku koordinator Sasta Bulan Purnama mengatakan, bahwa selama ini Sastra Bulan Purnama (SBP)  memang banyak diisi karya sastra dalam bentuk puisi, padahal ada puisi yan ditulis dalam bahasa lain, dalam hal ini Jawa da dialek Semaranga, dan SBP memberi ruang puisi jenis itu.(*)

https://entertainment.kompas.com/read/2018/12/18/232021710/dua-buku-geguritan-di-sastra-bulan-purnama

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke