Salin Artikel

Film Dokumenter Lorena Soroti Fenomena KDRT

Mengambil kisah nyata perempuan bernama Lorena Bobbit, yang memotong kelamin suaminya secara tidak sadar pasca berbagai aksi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya, Film Lorena akan diputar perdana pada Jumat (15/2/2019).

Film itu mengungkap fenomena perkosaan dalam perkawinan atau marital rape.

"Saya tidak tahu mengapa saya melakukannya malam itu. Saya khilaf," ujar
Lorena ketika diwawancara oleh stasiun televisi NBC pada Jumat (8/2/2019) waktu setempat, seminggu sebelum film dokumenter yang memotret bagian pahit kehidupannya 26 tahun lalu diudarakan.

Perempuan kelahiran Bucay, Ekuador, pada 1970 tersebut menjadi sorotan publik pada 1993 karena tindakan yang tidak pernah terjadi sebelumnya itu dan memicu perdebatan sengit tentang KDRT, khususnya marital rape atau perkosaan di dalam perkawinan.

Lorena, yang menikah dengan John Wayne Bobbitt pada 1989, kerap dianiaya secara fisik dan psikis, dan mencapai puncaknya pada 23 Juni 1993 ketika ia diperkosa suaminya.

Insiden itu menjadi berita utama media di dalam dan luar AS selama berbulan-bulan.

Sidang pengadilan Lorena disiarkan langsung di beberapa jaringan televisi dan radio. Tak jarang ia menjadi lelucon di tabloid dan acara komedi televisi pada malam hari, termasuk program terkenal Saturday Night Live.

Ironisnya yang menjadi sorotan adalah soal tindakan pemotongan kelamin, bukan soal latar belakang tindakan itu.

"Mereka selalu memusatkan perhatian pada hal itu..." ujar Lorena kepada surat kabar The New York Times, 30 Januari 2019.

"Sepertinya mereka (media, Red) tidak tahu atau tidak peduli mengapa saya melakukan hal itu," tambahnya.

Tim juri pengadilan yang beranggota tujuh perempuan dan lima laki-laki akhirnya membebaskan Lorena dari segala tuduhan dengan alasan temporarily insane atau kehilangan akal sehat sesaat.

Kembali ke film dokumenter Lorena, film tersebut akan diputar pada Jumat (15/2/2019) waktu setempat, 26 tahun setelah kejadian itu.

Lorena sudah menjalani hidup baru. Ia menikah lagi dan memiliki seorang anak perempuan yang mulai beranjak remaja.

Lorena menjadikan pengalaman buruknya untuk membantu korban KDRT, karena sebagaimana pernyataannya kepada pers, "Meskipun sudah berlangsung puluhan tahun lalu, kondisi perempuan masih belum banyak berubah."

Ia berharap film dokumenter itu memberi banyak pelajaran kepada perempuan, terutama korban perkosaan dalam perkawinan dan KDRT.

https://entertainment.kompas.com/read/2019/02/13/213725410/film-dokumenter-lorena-soroti-fenomena-kdrt

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.