Raditya Dika: Semua Berawal dari Kesuksesan "Ngeblog"

Kompas.com - 07/01/2009, 10:30 WIB
Editor

Sulung lima bersaudara ini masih muda. Dalam usia 24 tahun, lajang yang kini kuliah di FISIP UI jurusan politik dikenal sebagai penulis buku komedi yang laris. Ia juga mengomandani sebuah penerbitan. Semua berawal dari kesukaannya ngeblog.

Buku karya Anda tergolong laris, ya?
Benar. Buku pertama saya berjudul Kambing Jantan Catatan Harian Pelajar Bodoh (2005) tahun ini sudah masuk cetakan ke-23. Kalau dihitung-hitung, sudah terjual lebih dari 100.000 eksemplar. Setelah buku pertama terbit, saya menulis beberapa buku lagi yaitu Cinta Brontosaurus (2006), Radikus Makan Kakus (2007), Babi Ngesot: Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang (2008). Seperti buku pertama, buku yang lain juga cukup laris. Bulan pertama saja rata-rata sudah terjual 10.000-an.
(Judul-judul buku Dika memang terdengar unik dan menggelitik. Bukunya memang mengedepankan humor. Buku antik ini ternyata memang sangat disukai pembaca, terutama remaja.)

Royalti mengalir, dong?
Ha ha ha. Lumayanlah. Menulis memang menjanjikan. Tapi, saya anggap hasil menulis merupakan passive income. Sistemnya, kan, royalti tiap enam bulan. Nah, sambil nunggu dapat royalti, saya kerja juga.

Anda kerja di mana?
Saya menjadi direktur dan pemimpin redaksi Penerbit Bukune.

Wah, masih muda sudah pegang jabatan keren?
Sebelumnya saya, kan, kerja di sebuah media. Mulai dari reporter, redaktur pelaksana, sampai menjadi pemimpin redaksi. Nah, kemudian ada yang menawarkan bagaimana kalau saya pegang sebuah penerbitan. Setelah diskusi sama bos-bosnya, saya dipercaya menjadi kaptennya.

Saya pegang penerbitan yang sasarannya pembaca 15-23 tahun. Usia remaja sampai jelang dewasa. Bukunya, sih, macam-macam. Mulai novel, psikologi, sampai kuliner. Jarang, kan, kuliner untuk pasar remaja. Salah satu menunya adalah resep cinta. Pokoknya, kami tidak ingin jadi follower.

Kembali ke soal buku, bagaimana, sih, proses kreatifnya?
Sejak kelas 4 SD, saya memang suka menulis diary. Ya, buku harian enggak penting begitulah. Hahaha. Sampai akhirnya tahun 2001 pas SMA kelas 2, saya nemu blog Irene Putri. Dia salah satu dedengkot blogger Indonesia. Saat itu, orang yang bikin blog seperti Irene masih bisa dihitung dengan jari.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Nah, waktu membaca tulisannya, dalam hati saya berpikir, norak banget nih orang. Masak dia menulis cerita pribadinya di internet. Pokoknya cerita keseharian waktu dia kuliah. Tapi, asyik juga, ya.

Habis itu pasti ikut-ikutan, ya?
He he. Saya memang ikut-ikutan bikin. Ternyata, asyik sekali bikin cerita keseharian saya. Pokoknya happy banget. Saya bisa tulis apa saja. Mulai soal keluarga, pacar, ulangan di sekolah, sampai liburan. Senang sekali ketika ada tanggapan. Yang ngeklik, kan, bisa dilihat statistiknya. Mulai dari 5 orang, 10, terus sampai lebih dari 50 orang.

Sampai saya kuliah di Adelaide, Australia, terpikir untuk bikin blog ini jadi komedi. Apalagi banyak yang mengatakan, tulisan saya lucu. Pas saya baca, kok, enggak ada lucunya. Lalu, saya ulik lagi agar benar-benar menjadi tulisan komedi yang bagus. Ternyata, banyak yang kemudian mengikuti gaya saya. Akhirnya, saya dapat Best Indonesian Blog Award dari Hongkong. Gara-gara itu banyak yang ngomongin siapa, sih, Si Kambing Jantan. Saya memang pakai nama ini di blog. Namanya norak, ya. Begitulah, seperti snow ball, makin banyak yang ikut.

Bagaimana muncul ide untuk membuat buku?
Sebenarnya, sih, iseng saja. Pas liburan ke Jakarta, saya print semua tulisan di blog. Saya pilih mana yang benar-benar lucu. Saya menyingkirkan tulisan yang mungkin bisa menyakiti hati orang. Awalnya saya ingin kirim ke 10 penerbit. Jadi, saya bawa 10 kopian naskah. Saya berniat mengantarkan sendiri ke penerbit.

Dari rumah saya di kawasan Blok S, Jakarta Selatan, saya ke penerbit ke Gagas Media di Depok. Ternyata sampai sana sudah capek banget. Apalagi ada acara nyasar segala. Begitu capek-nya, setelah naskah saya serahkan, saya malas ke penerbit lainnya. Habis itu langsung pulang. Ternyata saya dapat kabar, tulisan saya bakal diterbitkan.

Berapa lama menunggu sampai naskah diterbitkan?
Cukup lama, sekitar 7 bulan. Selama itu, memang terjadi komunikasi antara penerbit dan saya. Salah satu kebijakan penerbit, menurut editornya, naskah tidak terlalu banyak diedit. Kalau diedit, ada magic of blog-nya yang hilang. Kalaupun ada salah ketik, penerbit membiarkan saja. Juga penempatan huruf kapital yang tidak sesuai. Editor bilang, justru itulah ciri blog, yaitu penulis awam yang tidak pernah bertemu editor sama sekali.

Akhirnya, April 2005 terbit buku pertama saya. Empat bulan kemudian, buku ini masuk best seller. Wah, senang sekali. Nah, untuk buku kedua, saya ingin membuat tulisan yang berbeda. Kebetulan, saya baru baca buku David Sadaris, penulis komedi dari Amerika. Ia membuat tulisan berdasarkan pengalaman pribadinya. Istilahnya personal essay. Buku David sangat memberi inspirasi. Model tulisannya kayak di blog tapi lebih rapi.

Salah satu kesuksesan buku pertama terlihat dengan ada beberapa turunannya. Yaitu Kambing Jantan versi film dan komik. Saya memang baru saja menyelesaikan syuting film. Saya memerankan diri sendiri dengan arahan sutradara Rudy Soedjarwo. Film ini sudah selesai syuting. Sekarang tinggal proses editing.

Bisa cerita sedikit soal film?
Soal pemeran, film ini dibintangi sebagian besar wajah baru seperti saya. Aktor senior salah satunya Pong Hardjatmo. Proses syuting, sih, asyik banget. Mas Rudy orangnya keras, tapi saya banyak menimba pengalaman soal film darinya.

Wah, kalau film ini sukses di pasaran, jangan-jangan Anda ganti profesi menjadi bintang film?
Ah tidaklah. Buat saya jadi bintang film sekadar pengalaman saja. Saya memang menunggu bagaimana hasil film ini. Seandainya berhasil, saya ingin juga menerjuni dunia film tapi lebih di belakang layar saja. Inginnya, sih, jadi produser atau penulis naskah. Yang jelas, dunia tulis-menulis tidak akan saya tinggalkan.

Proses pembuatan komik juga tidak saya duga. Awalnya Dio Budiman, anak Bandung, menghubungi saya lewat e-mail. Dia ingin membuat Kambing Jantan versi komik. Ternyata, setelah ketemu, Dio masih muda banget. Waktu pertama ketemu setahun lalu, dia masih pelajar SMA. Sekarang dia kuliah di FSRD ITB.

Awalnya, Dio ingin memindahkan buku Kambing Jantan ke format komik. Namun, menurut saya, lebih baik membuat cerita baru. Saya membuat naskah yang menceritakan pengalaman saya saat belajar di Adelaide Australia. Total butuh waktu setahun untuk menyelesaikan komik. Saya puas dengan hasilnya. Lucu banget.

Buku Anda, kan, sukses luar biasa. Apa yang ingin Anda sampaikan?
Buat saya, sukses buku ini yang disusul dengan penggarapan versi film dan komik, merupakan indikator, blog bisa jadi sesuatu yang luar biasa.

Omong-omong, bagaimana tanggapan keluarga Anda tentang kesuksesan Anda?
Mereka mendorong banget, terutama mama saya, Etty Nasution. Beliau sangat bangga. Kalau buku saya terbit, Mama memborong buku saya untuk dibagikan ke teman-temannya. "Ini buku karya anak saya, lho," katanya. Papa saya, Joeslin Nasution, juga bangga. Lucunya, Papa tidak pernah baca tulisan saya.

Bagaimana, sih, keluarga Anda, kocak-kocak, ya?
Begitulah. Papa menyebut keluarga disfungsional. Memang banyak cerita lucu dari keluarga saya. Salah satu contoh, beberapa waktu lalu saya baru saja operasi lasik. Untuk melihat, masih berbayang dan enggak enak banget. Nah, Papa tampak perhatian banget. Untuk proses pemulihan. Papa memberi saya jamu. Tanpa pikir panjang, saya minum jamu setengah gelas yang warnanya hitam pekat itu.

Malamnya, ternyata rasanya enggak enak banget. Saya enggak bisa tidur, panas, dan gelisah. Sampai keesokan harinya, rasa tak enak masih saja belum hilang. Sampai saya ke Surabaya untuk sebuah acara talkshow di Universitas Airlangga yang sudah direncanakan jauh hari. Sesampai saya di Surabaya, Mama telepon. "Kemarin kamu dikasih Papa obat apa? Jamu warna hitam, ya?" Lalu, Mama kasih tahu, saya telah dikerjain Papa. Jamu yang saya minum adalah jamu kuat lelaki! Pantas, celana saya sampai sempit.

Anda sendiri suka melawak, ya?
Tidak. Saya sebenarnya bertipe serius. Saya sangat suka baca buku-buku yang berat. Tahu enggak, penulis buku komedi yang saya tahu, rata-rata serius, lho.



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X