"Sang Penari" Tafsir yang Berdaulat

Kompas.com - 13/11/2011, 02:52 WIB
Editor

Penulis trilogi novel tentang ronggeng di Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, sejak awal mengambil sikap moderat terhadap film Sang Penari. Ia hanya akan memosisikan dirinya sebagai kreator novel pada saat karya itu dikerjakan, sesudahnya menjadi milik publik dengan kemungkinan tafsir yang beragam.

Terhadap film yang digarap tiga anak muda kota, yang barangkali tidak bersentuhan langsung dengan situasi di Dukuh Paruk tahun 1960-an, ia menyatakan apresiasi yang tinggi. ”Ini akan jadi dokumentasi visual yang menarik versi rakyat, bukan versi kota sebagaimana dalam film-film kita sebelumnya,” ujar Tohari, Kamis (10/11), dari Purwokerto, tempat ia menetap.

Film Sang Penari adalah tafsir visual terhadap trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala karya Ahmad Tohari. Tentu, tambah Tohari, tidak akan mungkin menerjemahkan seluruh narasi dan imajinasi dalam ketiga novel ini dalam keterbatasan durasi. ”Bagi saya yang terpenting ruh novel ini terpenuhi, yakni kenestapaan hidup orang-orang di Dukuh Paruk tahun 1960-an itu,” katanya.

Dengan besar hati, mantan wartawan yang memilih tinggal di kampung ini menyatakan bahwa Sang Penari adalah tafsir yang mandiri dan berdaulat terhadap trilogi novelnya. ”Saya sadari capaian kata-kata akan sulit diterjemahkan secara visual. Saya ringan dan senang-senang saja,” kata Tohari.

Salah satu penulis skenario Sang Penari, Salman Aristo, mengakui bahwa kesulitan pertama-tama menulis skenario film ini terletak pada begitu luasnya ruang imajinasi yang harus disederhanakan ke dalam bentuk gambar. Novel karya Ahmad Tohari yang berkisah tentang Srintil dan Rasus terdiri atas tiga buku. Sementara mereka (Salman, Ifa Isfansyah, dan Shanty Harmayn) harus mentransformasikannya dalam durasi yang tak lebih dari 120 menit. Oleh sebab itulah, ”Ini mungkin skenario terlama yang saya tulis, 2-3 tahun,” kata Salman.

Para penulis skenario, kata Salman, beberapa kali harus datang langsung ke Banyumas, tempat cerita dalam novel itu berlangsung. ”Bahkan, kami menonton ronggeng di Banyumas. Tentu saja juga membaca banyak referensi dan ngobrol dengan banyak orang,” katanya.

Menurut Salman, mereka akhirnya memutuskan fokus mengeksplorasi persoalan manusia di dalam film karena dari persoalan inilah semuanya peristiwa di dalamnya berkembang. ”Bahwa ada love story antara Rasus dan Srintil dalam film itu juga persoalan manusia di desa kecil bernama Dukuh Paruk,” kata Salman.

Menurut Salman, Ifa sebagai sutradara berusaha menampilkan sudut pandang kekinian dengan bermain karakter para tokohnya. ”Kamera selalu mengambil gambar dari jarak dekat sehingga menuntut karakterisasi pemain yang kuat,” kata Salman.

Dukuh Paruk sebenarnya nama imajiner dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk. Ahmad Tohari hanya menjadikan Desa Pakuncen di Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, sebagai model karena situasinya mirip dengan gambaran-gambaran dalam novelnya. Seluruh shooting film Sang Penari, kata Tohari, dilakukan di Desa Sukawera, desa di tenggara Purwokerto.

Melompat-lompat

Sebagai penulis novel, tak urung Tohari melihat film Sang Penari agak melompat-lompat dan tidak detail di dalam menggambarkan setting cerita. Alam yang dijadikan latar berlangsungnya peristiwa, katanya, masih terlalu hijau. Sementara Dukuh Paruk dalam novelnya saat 1960-an adalah desa yang kering kerontang. ”Juga ada beberapa pemeran yang masih terlalu gemuk, kurang kurus, karena saat itu Dukuh Paruk desa yang serba kekurangan,” katanya.

Namun, lanjutnya, gambaran-gambaran tersebut adalah hal-hal yang tidak mudah untuk dicapai dalam sebuah film dengan durasi yang terbatas. ”Oleh sebab itu, saya tetap hargai kerja keras sutradara tanpa tuntutan sedikit pun,” katanya.

Sekitar 1980-an Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari pernah difilmkan oleh Gramedia Film. ”Cuma kelihatannya hasilnya jauh dari memuaskan Ahmad Tohari selaku penulis novel,” kata Film Project KG Production Panji Indra. KG Production menjadi salah satu lembaga yang menjadi produser film Sang Penari. ”Kami berharap film ini menjadi salah satu film yang memberi warna lain dalam perfilman kita sekarang ini,” kata Panji.

Salman bahkan berharap kiblat perfilman Indonesia berubah setelah lahirnya Sang Penari. ”Bahwa membuat film itu butuh perencanaan, riset, keteguhan, dan juga ketegasan bersikap,” katanya. Tentu maksudnya, sikap keberpihakan dengan ideologi kerakyatan yang jelas.... (CAN)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X