Indirahadi mengatakan, ACCO merupakan komunitas, bukan ekstrakurikuler. Oleh karena itu, komunitas ini terdiri dari guru, alumni, sampai karyawan. ”Biarpun sudah lulus dari Al-Izhar, (alumni) bisa tetap aktif di ACCO,” ungkapnya.
Seperti Diandra yang belajar musik sejak kanak-kanak, siswi SMAK Santa Ursula Bumi Serpong Damai, Nadia, mengenal alat musik sejak SD. Kira-kira umur sembilan tahun, ia belajar biola sekitar setahun.
Berhenti belajar biola, tak berarti dunia Nadia terputus dari musik. Kakak perempuannya, Lisa, saat itu bergabung dengan orkestra dan memainkan trombon atau contrabass. Ketika menonton drama, untuk pertama kali dia melihat obo yang dimainkan dalam orkestra. Nadia buta obo, mulai dari cara memegang, apalagi meniupnya.
”Tetapi, saya ingin belajar, sampai mencari gambar obo yang besarnya seperti obo beneran. Terus, saya potong biar bisa belajar megang obo,” cerita Nadia yang bergabung dalam orkestra di sekolah dan belajar obo.
Tak mudah belajar obo meski ia mempunyai dasar biola. Ia sempat kesulitan dan terpikir mengundurkan diri sekitar setahun setelah bergabung dengan orkestra. ”Susah banget menyesuaikan diri. Saya sempat mikir pengin mundur,” katanya.
Ketika menyampaikan maksudnya, Nadia diingatkan tak bisa seenaknya mengundurkan diri. Siapa pun yang sudah masuk orkestra berarti telah menetapkan pilihan. Anggota orkestra masuk lewat seleksi, tak bisa mundur begitu saja.
”Teman-teman menyemangati saya,” ujar Nadia yang batal keluar. Ia menyadari, belajar musik klasik secara tak langsung ikut melatih otak. ”Sampai sekarang, saya latihan seminggu sekali dan porsi latihan ditambah menjelang pentas,” ujarnya.
Addie MS mengemukakan, kegiatan orkestra di sekolah bermanfaat besar. Orkestra tak bermaksud menjadikan siswa sebagai musisi, tetapi manusia dengan keseimbangan antara otak kiri dan otak kanan.
”Agar tak hanya menganggap keahlian kognitif, musik bisa menjadi kompensasi, musik tradisi maupun klasik Barat,” kata Addie yang aktif berkeliling berbagai sekolah, setelah pada 1998 frustrasi melihat Indonesia tak lagi bangsa yang cinta damai.
Manusia sebaiknya jangan mengabaikan seni. Dia melihat begitu mengabaikan musik, sensitivitas kita terhadap perbedaan mudah dipolitisasi. ”Dalam seni, kita belajar tentang berbagai perbedaan yang menjelma menjadi kesatuan,” ujarnya.
Selain itu, kegiatan serupa mendorong siswa belajar sportif, disiplin, dan bekerja dalam tim. Misalnya, pemain terompet bermain tak sesuai petunjuk konduktor, keseluruhan musik yang ditampilkan runtuh.
”Setiap individu dituntut bertenggang rasa dan tidak bisa berlaku sesuka gue,” kata Addie yang menganggap pelajaran berkompetisi yang baik ada dalam musik klasik.
Instrumen musik amat beragam bentuk dan melodinya. Namun, suara-suara berbeda itu mampu menghasilkan melodi yang sinergi dan indah dalam perbedaan. Jadi, mengapa tak belajar menerima perbedaan dari musik dengan menggalakkan kegiatan bermusik di sekolah?