Stand Up Comedy Indonesia: Negeri Ini Lucu

Kompas.com - 17/02/2013, 13:56 WIB
EditorAti Kamil

JAKARTA, KOMPAS.com -- "Laut itu egois. Kenapa dia airnya banyak. Danau 'aja dikit'. Air sungai juga 'dikit'. Tapi, diminta juga sama laut. Pas sudah sampai laut, airnya jadi asin. Dia enggak 'mikirin' perasaan ikan. Entar kalau matanya kelilipan bagaimana?"

Itu lontaran Fico, peserta Stand Up Comedy 3 KompasTV yang tayang setiap Minggu pukul 20.00. Materi yang disampaikan Fico itu dinilai oleh juri Raditya Dika sebagai unik. Raditya sampai sulit mendapatkan kerangka teori untuk mengomentari penampilan peserta dari Jakarta itu. "Itu baru banget," kata Raditya terheran-heran.

Pendekatan personifikasi serupa itu juga digunakan Fico dalam putaran kedua yang tayang pada Minggu (17/2) malam ini. Putaran kedua musim ketiga itu mengambil tema cinta dalam rangka Hari Valentine. Ketika peserta lain memilih tema percintaan dengan kekasih, Fico mengolah bahan tentang cinta segi tiganya dengan botol minuman.

"Gue enggak tau kalau si botol itu punya pacar. Namanya tutup botol." Ketika tutup botol dibuka, dan air diminum, sang tutup merasa cemburu karena sang botol telah berciuman dengan si peminum.

Boleh dikata ini ide liar. Sebuah permainan imaji dengan cara memanusiakan benda mati. Materi semacam itu cukup jarang digunakan para komika Suci dalam dua musim terakhir. Fico mengambil persona atau gaya pembawaan seseorang yang polos, kekanak-kanakan.

Wakatobi, Batak, Madura
Stand Up Comedy Indonesia 3 memperlihatkan kelebaran latar belakang peserta. Sebanyak 18 finalis berasal dari beberapa daerah, dengan profesi beragam. Ada Ari "Keriting" Satriaddin dari Wakatobi yang kuliah di ITN, Malang. Muslim perawat dari Madura, Bene Dion Rajaguguk dari Tebing Tinggi (Sumut), Alison Victoria yang menyebut diri sebagai Bule Bandung adalah ekspatriat, direktur prasekolah di Bandung.

Keragaman latar itu memperkaya khazanah materi komedi di jagat perkomedian Indonesia. Mereka mengulik karakteristik dan tipikalisasi yang melekat, atau setidaknya dilekatkan orang, pada daerah asal mereka. Ari Kriting, misalnya, mengangkat tema olahraga, karena banyak atlet datang dari timur. Kekalahan tim sepak bola Indonesia itu kata materi dalam penampilannya karena kekurangan orang dari Indonesia timur.

"Orang timur itu jago main bola karena kebiasaan berburu. Orang timur itu kalau berburu, yang namanya anoa, kasuari, babi hutan itu kita kejar, kita kejar, kita kejar, kemudian kita tackling...," kata Ari yang mendapat tepuk riuh.

"Kalau Kenya menang lawan Indonesia, itu karena latihannya memang lebih berat. Mereka latihannya tackling cheetah," kata Ari menyebut binatang yang bisa berlari sampai 100 kilometer per jam.

Pada putaran kedua, Ari masih menyitir sedikit soal tackling sebagai pemuncak tampilan. Kali ini ia bercerita tentang romantisisme berjalan di pantai kala senja bersama sang pacar. Ia membawa tombak untuk menombak gurita. "Karena gurita susah di-tackling. Kakinya banyak...."

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Budaya
Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Budaya
Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Seleb
Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Musik
Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

BrandzView
komentar di artikel lainnya
Close Ads X