Stand Up Comedy Indonesia: Negeri Ini Lucu

Kompas.com - 17/02/2013, 13:56 WIB
EditorAti Kamil

Muslim perawat dari Madura memainkan tipikalisasi orang Madura yang banyak berbisnis besi bekas. Tiang mikrofon ia ketuk-ketuk, lalu ia taksir harganya Rp 7.500. Bahkan kawat gigi pacar pun ia taksir harganya.

Bene Diony Rajagukguk membawa tipikalisasi orang Batak yang dalam materi Bene digambarkan berkarakter tegas. "Orang Batak kalau ber-stand up comedy pasti lucu karena yang tidak ketawa akan dipukuli...."

Indro Warkop, juri Suci 3, menilai materi dengan warna tipikalisasi kedaerahan itu merupakan kekayaan bahan berkomedi komika di Indonesia. "Itu kekayaan kita dan itu sah, selama mereka bisa menyampaikan dengan baik. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menertawakan diri sendiri," kata Indro.

Lebih siap
Ajang Stand Up Comedy Indonesia yang digelar KompasTV untuk ketiga kalinya sejak 2011 terbukti semakin banyak diminati khalayak. Produser Eksekutif Suci 3 Johanna Dewi Kartika menyebutkan, peserta audisi Suci 3 mencapai 665 peserta, alias dua kali lebih besar daripada Suci 2. Mereka mengikuti audisi di 4 rayon, yaitu Jakarta yang diikuti 250 peserta, Bandung (180), Surabaya (120), dan Yogyakarta (115).

Dari materi penampilan, peserta Suci 3 tampak lebih siap dan cukup matang dibandingkan dengan peserta dua musim sebelumnya. Berbeda dengan sebelumnya, peserta kali ini hanya diberi waktu tampil 3 menit. Durasi ringkas itu mengondisikan komika untuk merancang materi sematang mungkin. "Peserta sudah mendapat pembelajaran dari sesi 1 dan 2," kata Johanna.

Indro yang menjadi juri sejak awal penyelenggaraan Suci menggambarkan, 90 persen peserta kali ini sudah memahami benar apa itu ber-stand up comedy. Pada musim pertama 2011, kata Indro, peserta audisi belum bisa membedakan antara komedi tunggal dan melawak gaya badutan, dan bercerita (story telling). Ia menduga, bertumbuhnya komunitas komedi tunggal di beberapa daerah turut memberikan kontribusi pada kesiapan peserta Suci 3.

Kesiapan peserta ditunjang juga oleh penggodokan yang dilakukan tim Suci selama masa karantina. KompasTV melibatkan para pemenang Suci 1 dan 2 sebagai mentor, seperti Ernest Prakasa, Gilang Bhaskara, G Pamungkas, Insan Nur Akbar, juga para senior, seperti Raditya Dika dan Panji Pragiwaksono.

Salah satu bagian dari tahapan penggodokan peserta itu adalah lewat semacam lokakarya dengan bimbingan para komika senior tersebut. Materi yang akan ditampilkan disimulasikan terlebih dahulu sehingga memungkinkan adanya penajaman materi. Bahkan, materi tersebut juga dijajal dulu di sebuah kafe.

"Di Suci 3, peserta belajar menjadi comic profesional. Mereka tidak sekadar mengejar hadiah, tetapi belajar ilmu," kata Johanna.

Pada akhirnya, penonton memang membutuhkan hiburan yang bisa membuat mereka tertawa. Bukan suguhan dari orang yang masih dalam taraf mencoba-coba untuk bikin orang tertawa. Karena tertawa itu tidak bisa dicoba-coba. (XAR)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.