Sophia Latjuba di Balik Kamera

Kompas.com - 11/08/2013, 12:52 WIB
Sophia Latjuba KOMPAS IMAGESSophia Latjuba
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- "Saya akan membuat film di mana saya bisa duduk dan ter-entertaint. Saya enggak mau bikin film yang baru 30 menit duduk, lalu saya bilang, 'Saya mau pulang ah..'" kata Sophia Latjuba, produser film Adriana.

Suatu siang kami ngobrol dengan Sophia Latjuba. Ia sedang berada di kantor PT Visi Lintas Film di bilangan Pejaten, Jakarta, yang memproduksi Adriana. Fajar Nugros adalah sutradaranya bersama Sophia. Anak Sophia, Eva Celia, menjadi pemeran utama. Adapun Indra Lesmana menggarap musiknya.

"Sama seperti ketika saya bikin musik, saya ingin mendengarkan musik yang ingin saya dengarkan. Musik yang akan saya nikmati," kata Sophie begitu ia disapa.

Suaranya lembut, pelan. Setiap kata, kalimat, ia sampaikan dengan senyum ramah dan wajah cerah, penuh optimisme. Jika Sophie merujuk pada pembuatan album, itu karena ia memang pernah membuat sejumlah album. "Tujuan saya hanya satu: menghibur orang," kata Sophie.

Menjadi produser merupakan pengalaman baru Sophie. Sebelumnya ia lebih sering berada di depan kamera sebagai pemain sejak tahun 1987. Tak kurang dari sepuluh judul film dan belasan sinetron pernah melibatkan Sophie sebagai pemain.

Berani
Sophie memang mempunyai keberanian untuk melakukan pekerjaan yang belum pernah ia coba, termasuk menjadi produser. Ia mengaku cepat belajar dan tak bisa diam. Memang secara formal ia belum pernah belajar tentang pembuatan film. Ia belajar dari pengalaman berada di depan kamera dalam film-film yang dibintanginya. Dalam waktu luang selama pembuatan film itu ia banyak mengamati, bertanya kepada kru film, mulai kamerawan sampai sutradara. "Pembelajaran saya dari situ. Dan terutama, saya ini suka nonton film."

Di atas semua itu, ia mempunyai kemauan keras. Tidak bermaksud menggampangkan, ia berprinsip kerja membuat film itu seperti bikin proyek-proyek lain. Namun, bagaimanapun diakuinya membuat film itu berbeda.

"Secara logis, saya memerlukan ini, ini, dan itu. Oke gue lemah di sini, jadi gue mesti hire si ini..." katanya. "Sebenarnya ini seperti bikin kue. Kayak bikin masakan. Bagaimana saya meracik sesuatu yang hasilnya akan seperti ini atau itu..." kata Sophie berteori.

Anda cukup berani ya?
"Itu karena saya ditantang..." katanya dengan senyum khasnya. Maksudnya, bagaimana dengan dana yang ada ia bisa menghasilkan film seperti yang ia mau. "Tapi kalau saya mengerjakan sesuatu, ya inilah yang saya bisa. Saya tidak bisa bikin mesin. Saya realistis saja. Pegangan saya hanya satu, kami punya tim. Saya yakin, dengan Nugros saya bisa membuat itu."

Ia jujur. Apa adanya dan terbuka. Ia ingin total dalam bekerja. "Seiring berjalannya waktu, dan seiring bertambahnya umur, saya bertambah perfeksionis. Saya ingin menampilkan sesuatu yang tidak setengah-setengah."

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X