Menonton Indonesia di Layar Hollywood

Kompas.com - 18/08/2013, 12:51 WIB
EditorAti Kamil

Film yang belum berjudul ini menambah deretan film berbiaya besar produksi Hollywood yang mengambil gambar di Indonesia. Pada 2010, film Eat, Pray, Love yang dibintangi Julia Roberts shooting di Ubud, Bali. Berikutnya ada The Philosophers di kawasan Bromo, Prambanan, dan Belitong. Film Java Heat yang dibintangi Mickey Rourke dibesut di Yogyakarta.

Tanpa subsidi
Pada 1982, sutradara Peter Weir menghasilkan film The Years of Living Dangerously yang berlatar Jakarta. Film yang dibintangi Mel Gibson dan Sigourney Weaver ini menceritakan situasi Indonesia pada 1965 di akhir masa kepemimpinan Soekarno. Hanya saja, pengambilan gambarnya dilakukan di Filipina dan Australia. Konon, Pemerintah RI pada waktu itu tidak memberi izin shooting bagi film produksi Metro-Goldwyn-Mayer Studios ini. Film ini juga dilarang tayang di Indonesia sampai 1999.

Pemerintah seperti membuka keran sebesar-besarnya bagi produksi film besar di Indonesia. Sejak 2010, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif gencar mendatangi komunitas perfilman dunia, di antaranya mendatangi festival film internasional. Pemerintah berpromosi supaya sineas internasional mau membuat film di Indonesia.

Hal itu diharapkan bisa memacu industri kreatif dalam negeri, terutama yang berkaitan dengan perfilman. Selain itu, pemerintah juga menyasar pertambahan angka kunjungan turis asing. Namun, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengakui, pemerintah belum bisa memberi subsidi bagi produksi film asing seperti yang sudah dilakukan Malaysia dan Singapura.

"Namun, kami memberikan pelayanan penuh, seperti kemudahan mengurus izin dan keimigrasian. Kami beri pelayanan one stop service," kata Mari. Salah satu contoh pelayanan itu adalah pengurusan izin kepada kementerian yang terkait pemakaian fasilitas shooting, seperti izin memakai jalan tol kepada Kementerian Pekerjaan Umum.

Mari mengatakan, Indonesia sangat berpotensi mendukung industri film dunia. Lanskap Indonesia yang lengkap, pegunungan, sabana, dan laut, cocok untuk shooting film kolosal. Hal itu juga diakui Mike Wiluan yang memiliki studio film di Batam. "Indonesia mungkin belum bisa menyamai standar (teknologi) Hollywood. Nilai jual kita adalah keelokan lokasi serta kualitas dan jumlah pekerja artistik film," kata Mike.

Apa yang disebutkan Mike itu sepertinya sudah dipahami beberapa produser luar negeri. Menurut informasi dari kementerian, ada sejumlah film lain yang akan shooting di Indonesia tahun ini. Semoga talenta kreatif Indonesia semakin dapat tempat di perfilman dunia.

Atau, jangan-jangan, produser luar negeri itu mencari calon penonton dari 200 juta lebih penduduk Indonesia? Sebab, sepertinya asyik juga membayangkan menonton James Bond jumpalitan di tengah keriuhan Pasar Induk Kramat Jati.... (Herlambang Jaluardi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.