Krisdayanti: Persembahan Ratu Cinta

Kompas.com - 24/11/2013, 11:09 WIB
Penyanyi Krisdayanti atau KD menjalani gladi resik untuk pertunjukan Aquaphoria di Hotel Aston Marina, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Senin (31/12/2012), dalam rangka pergantian tahun dari 2012 ke 2013. TRIBUN JAKARTA/JEPRIMAPenyanyi Krisdayanti atau KD menjalani gladi resik untuk pertunjukan Aquaphoria di Hotel Aston Marina, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Senin (31/12/2012), dalam rangka pergantian tahun dari 2012 ke 2013.
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Sepanjang karier yang terentang sekitar 17 tahun, baru kali ini Krisdayanti bernyanyi dalam kemasan electronic music, yaitu pada lagu "Ratu Cinta". Lagu gubahan Melly Goeslaw ini bisa dibilang bukan tipikal lagu-lagu Krisdayanti. Setidaknya jika dibanding dengan lagu seperti "Mencintaimu", "Menghitung Hari", "Pilihlah Aku", dan "Cobalah untuk Setia", dan kebanyakan lagu dia lainnya yang termuat dalam album Persembahan Ratu Cinta.

"Ini pertama kali aku nyanyi lagu dengan electronic music. Kok ya pede-pede-nya banget aku nyanyi lagu 'Ratu Cinta'," kata Yanti yang merasa mendapat energi muda lewat lagu itu.

"Ketika terima lagu ini dari Melly, aku kok enggak ngaca, pantes enggak ya aku nyanyi lagu ini," katanya.

Namun, kata Yanti, begitu masuk studio dan mulai take atau perekaman suara, segalanya mengalir begitu saja. Proses perekaman suara itu hanya sepuluh menit. Setelah itu Melly serta Anto Hoed sebagai produser menyatakan tidak diperlukan take ulang. Itu artinya, Yanti sudah melaksanakan tugas dengan baik, setidaknya menurut sang produser. Artinya lagi, lagu itu siap dilempar ke pasar. "Buat aku ini luar biasa."

"Ratu Cinta" dan "Bertubi-tubi" adalah dua lagu baru yang dibawakan Krisdayanti dalam album Persembahan Ratu Cinta terbitan Warner Music dan Raya Musik yang memuat 16 lagu. Sebanyak 14 lagu lain merupakan lagu-lagu the best dari Yanti.

Bagi Yanti, tugas penyanyi adalah mengindahkan sebuah lagu. Dikatakannya, memang banyak penyanyi bersuara bagus, dan jauh lebih bagus dari dia. Akan tetapi, soal mengindahkan sebuah lagu itu tidak hanya diperlukan suara bagus. "Harus pakai semedi ha-ha...," katanya berseloroh.

Ia bermaksud mengatakan bahwa sebuah lagu lahir dari penghayatan total, konsentrasi, bersungguh-sungguh, dan tidak bisa sambil lalu. Coba simak lagu "Mencintaimu" di mana penghayatan Yanti terkesan cukup dalam. Dalam satu suku kata "ha" saja, dalam lirik "hanya satu yang tak mungkin kembali...", termuat impresi perasaan tulus, pasrah, tapi kuat dan tabah, dari seseorang dalam mencintai. Meski harus berkorban, menderita. (XAR)

Krisdayanti    
Lahir: Batu, Jawa Timur, 24 Maret 1975
Album:
- Cinta, 1996
- Kasih, 1997
- Demi Cinta, 1998
- Sayang, 1998
- Buah Hati, 1999
- Menghitung Hari, 1999
- Mencintaimu, 2000
- Makin Aku Cinta, 2001
- Menuju Terang, 2002
- Cahaya, 2004
- Aku Wanita Biasa, 2009
Sinetron:
- None, 1993
- Si Cemplon, 1994
- Saat Memberi Saat Menerima, 1995
- Istana Impian, 1996
- Abad 21, 1997
- Istri Pilihan, 1997
- Doaku Harapanku, 1998
- Mencintaimu, 2001
- Doa dan Anugerah, 2002.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X