DWP 2013: Mantra Global Pemecah Ekstase

Kompas.com - 22/12/2013, 11:43 WIB
Djakarta Warehouse Project 2013 digelar di Ecopark, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, 13 Desember 2013 malam. KOMPAS.com/IRFAN MAULLANADjakarta Warehouse Project 2013 digelar di Ecopark, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, 13 Desember 2013 malam.
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Malam itu, Ecopark Taman Impian Jaya Ancol seperti tersihir menjadi dunia tersendiri, yang hanya mengenal kegembiraan. Puluhan ribu manusia berjoget, memecah ekstase dalam entakan musik-dansa elektronik.

Berbeda dengan awal kemunculannya, fenomena electronic dance music (EDM) dalam satu dekade terakhir kian merangsek ke dalam arus utama industri hiburan. Saban bulan setiap tahun selalu saja ada jadwal festival EDM di berbagai negara.

Di Indonesia sendiri, sejak enam tahun lalu, Djakarta Warehouse Project (DWP) menambah satu titik koordinat dalam peta global perhelatan "ajeb-ajeb" massal festival EDM. Jenis festival musik yang kian menjadi bisnis besar di Asia, setelah lebih dulu meledak di Amerika Serikat dan Eropa.

Pergelaran kelima DWP 2013 pekan lalu, Jumat (13/12/2013) sore hingga Sabtu (14/12/2013) pagi, di Ecopark dipadati hingga sekitar tiga puluh ribu pengunjung, sebagian termasuk warga negara asing. Sebagai perbandingan, DWP 2012 di Istora Senayan Jakarta, pengunjung yang datang sekitar dua puluh ribu orang.

Gelombang massa penggila EDM ini mulai memadati areal Ecopark selepas petang. Mereka datang dengan gaya kasual yang khas. Banyak pengunjung perempuan hadir dengan atasan yang menampakkan perut, celana ekstra pendek, dan alas kaki nyaman.

Berbeda dengan acara ajeb-ajeb di kelab, berlaku kemerdekaan berpenampilan dalam festival, sehingga siapa pun boleh bersandal jepit. Begitu pula dengan laki-laki, sebagian tampak santai saja bertelanjang dada dan celana selutut. Perlengkapan lain yang khas, misalnya kacamata hitam. Ya, meski di malam hari, mereka berkacamata hitam sambil berjoget. Tak lupa, gelang berwarna-warni neon yang menyala indah dalam gelap seiring gerakan-gerakan tangan saat berdansa.

Dalam kajian berjudul Rave Culture and the Contemporary Electronic Dance Music Scenes, profesor dari Departemen Sosiologi Universitas Delaware di AS, Tammy L Anderson, menyebut, ciri-ciri penampilan semacam itu semula menjadi penanda identitas komunitas rave atau ravers saat berpesta. Kredo yang diusung komunitas ini adalah PLUR, peace, love, unity, and respect. Kredo yang sebenarnya masih merujuk pada era counter-culture di tahun 1960-an.

Anderson mencermati, di era 1980-an di Inggris, rave sejatinya merupakan pesta-pesta klandestin yang digelar kaum muda secara ilegal atau tanpa izin, dengan memutar musik elektronik sebagai ciri utama. Gudang (warehouse), misalnya, menjadi tempat yang disasar untuk pesta tersebut.

Dari fenomena itulah, EDM meniti sejarah. Musik elektronik menjadi medium pencarian identitas kolektif kaum muda, yang semula antikemapanan. Sementara kini, kultur rave yang mengusung EDM terkomodifikasi menjadi pesta yang berbasis pada kelab berizin, yang lalu memunculkan istilah clubbing. Perhelatan festival EDM lantas menjadi komoditas yang menjadi ajang bisnis tersendiri di panggung global.

Di Asia, selain DWP, festival EDM yang lebih dulu ternama, misalnya, ZoukOut Singapura sejak tahun 2000 dan Sunburn di Goa India sejak 2007. Ketiga festival di Asia tersebut hanya sebagian dari 82 festival EDM lainnya di dunia sejak Januari hingga Desember di tahun 2013 ini. Tak heran, dari semula hanya beredar klandestin, EDM kini secara pesat membentuk subkultur tersendiri di arena global dalam garapan mesin bisnis.
Pecah

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X