"The Act of Killing" Dipuji di Luar, Ditentang di Tanah Air

Kompas.com - 21/01/2014, 16:15 WIB
Dok IMDB.com The Act of Filling
JAKARTA, KOMPAS.com — The Act of Killing, film dokumenter berbahasa Indonesia karya sutradara Joshua Oppenheimer, yang mengangkat kisah pilu mengenai peristiwa pembunuhan massal dan impunitas di Tanah Air oleh seorang pemimpin pasukan kematian bernama Anwar Congo, telah diumumkan menjadi salah satu nomine kategori Film Dokumenter Terbaik versi Academy Awards 2014 atau yang ke-86. Film itu akan bersaing dengan Cutie and the Boxer, Dirty Wars, The Square, dan 20 Feet from Stardom untuk menggondol piala Oscar.

Anwar, yang membintangi sendiri film itu, selain menuturkan cerita, juga merekonstruksi setiap tahap pembunuhan keji yang pernah dilakukannya sebagai algojo atas para kader atau tertuduh komunis pada era 1960-an.

Dalam potongan film tersebut, yang diunggah ke situs The Guardian, Anwar tampak bangga bercerita di depan kamerawan film itu mengenai peristiwa yang dikenal oleh Barat sebagai pembantaian satu juta orang—yang mencakup bukan orang-orang yang dicap komunis saja, melainkan juga para pemimpin buruh, orang berdarah China, dan kelompok intelektual—dengan alasan khawatir Indonesia akan menjadi seperti Vietnam dan jatuh ke tangan komunis.

"Saya tidak tahu tempat ini berhantu atau tidak, tapi di sini banyak sekali korban jiwa. Orang datang ke sini kondisinya biasa, dipukulin, mati," tutur Anwar di sebuah bangunan tua yang diduga sebagai tempat pembantaian massal yang pernah dilakukannya.

"Tapi, kalau cara seperti itu (dipukul hingga tewas), itu akan banyak darah. Bersihin darahnya itu kan bau, di mana-mana darah. Jadi, harus pakai sistem seperti ini," lanjut si penjagal, yang terkenal keji karena membunuh ratusan orang hanya dengan seutas kawat.

Namun, Anwar mengaku pula, sehabis membunuh, ia sering mengalami tekanan batin. Namun, ia memiliki cara untuk mengatasinya.

"Mendengarkan musik yang bagus, sedikit alkohol, mariyuana (ganja), terus cha cha cha," ucap lelaki yang fisiknya kini mulai renta itu sambil tertawa dan menari cha cha.

Kehadiran film dokumenter karya Oppenheimer tersebut menimbulkan pro dan kontra. Sejumlah pembaca Kompas.com pun menentangnya.

"Hard to believe film karya J. Oppenheimer ( JO ) yg controversial and exaggerated bisa menang OSCAR the 86th pd tgl. 2 March’14 y.a.d. krn sangat SEPIHAK & IRONIS yg tdk sesuai dgn. perilaku Bgs. /Rakyat Indo. yg sebenar-nya. Saya khawatir JO –pun sangat menyukai Film2 John Wayne & Marlon Brando. Alasan takut INDO jadi Komunis spt. Vietman hanya-lah alasan POLITIS! Bukti-nya thn 1960 Perang Vietnam saja belum selesai! (Ho Chi Mien Blm menang Vs. Imperialist USA). Seharusnya jika JO ingin ciptakan realitas yg lebih real sdh sejak sblm thn 1960 jaman-nya Westerlink membantai RIBUAN Manusia yg Tdk Berdosa di Makassar. Barat/ Bule selalu hanya bisa ajar Bgs. Indo. hal2 yg KEJI termasuk SEX agar Bgs. INDO. tdk MAJU. Alasan takut INDO jadi Komunis spt. Vietman han," tulis seorang pembaca.

"Indonesia masuk ke layar internasional tentang: pesawat jatuh (NGC), perusakan alam (NGC/Animal Planet), teroris, asap hutan, dan sekarang pembunuhan masal... makin malu ngomong asal negara sama orang luar...," tulis pembaca lainnya.

"Bakal makin banyak yang nonton filmnya, bakal makin tenar negeri kita dengan pembantaian ..." tulis seorang pembaca yang lain lagi.

Sebaliknya, The Act of Killing justru mendapat pujian ketika diputar di salah satu festival film besar dan bergengsi tingkat internasional di Kanada, Toronto International Film Festival, pada September 2012. Pujian ketika itu datang dari sineas-sineas ternama seperti Werner Herzog dan Errol Morris.

"Saya belum pernah menonton sebuah film yang sekuat, sesureal, dan menakutkan seperti The Act of Killing selama satu dekade terakhir," kata Herzog.

"Menakjubkan, tidak seperti film-film lain yang pernah saya tonton," ujar Morris.

John Roosa, seorang sarjana sejarah Indonesia di University of British Columbia, sekaligus penulis buku Pretext for Mass Murder, buku terkenal tentang pembantaian 1965, berpendapat, "Film ini telah memprovokasi, mendorong warga Indonesia untuk bertanya, 'Beri tahu kami, apa yang terjadi?'."



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorAti Kamil

Close Ads X