Dawn of the Planet of the Apes: Satire Pasukan Kera bagi Manusia

Kompas.com - 13/07/2014, 14:55 WIB
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Menonton  kera-kera dalam film Dawn of the Planet of the Apes kita seperti becermin. Ketika kemampuan otak kera telah menyamai manusia, kebobrokan moral pun turut menjangkiti satwa primata itu. Sebuah satire sinematis tentang manusia dengan segala perilaku kebinatangannya.

Film Dawn of the Planet of the Apes yang disutradarai Matt Reeves merupakan kelanjutan dari film sebelumnya, Rise of the Planet of the Apes (2011). Caesar (Andy Serkis), yang pada Rise of the Planet of the Apes telah membebaskan para kera dari tawanan manusia, kini telah menjadi pemimpin dari gerombolan kera.

Sepuluh tahun setelah terbebas dari belenggu sebagai hewan percobaan laboratorium, intelegensia kera ternyata makin meningkat. Mereka membangun koloni dan membesarkan anak-anak kera dengan dasar pengetahuan. Pada dinding-dinding batu, para kera ini menorehkan kredo seperti "kera tidak membunuh kera".

Dawn of the Planet of the Apes dibuka dengan demonstrasi kekuatan gerombolan kera. Tubuh mereka begitu kuat sehingga menjadi dominan di antara penghuni hutan. Berburu dalam rombongan besar, ribuan kera berayun-ayun dari satu pohon ke pohon lain. Dengan sekali sergap, mereka membekuk kumpulan rusa atau bertarung melawan beruang.

Pasukan kera juga bersenjata, seperti tombak. Mereka berburu naik kuda. Mereka bahkan menguasai bahasa manusia. Suara mereka masih terpatah-patah, tapi memberi kesan berat dan kuat.

Sementara itu, bangsa manusia harus bertahan hidup di antara reruntuhan kota. Seiring berjalannya waktu, sebagian kecil manusia mulai kebal terhadap dampak mematikan dari flu simian yang berasal dari kera. Bebas dari flu, manusia terancam krisis energi akibat ketiadaan cadangan energi listrik.

Setelah kehancuran manusia akibat serangan flu simian, tak pernah lagi ada kisah perjumpaan antara dua spesies yang saling bermusuhan itu. Kehidupan harmonis di koloni kera pun guncang akibat pertemuan kembali antara kera dan manusia.

Perjumpaan kembali kera dan manusia menjadi tak terelakkan ketika manusia berusaha memperbaiki bendungan di hutan sebagai sumber pembangkit listrik. Dari bendungan ini pula, kisah persahabatan antara pemimpin kera dan Malcolm (Jason Clarke) mulai terjalin.

Aspek psikologis
Film fiksi ilmiah Dawn of the Planet of the Apes menonjolkan aspek psikologis lewat hubungan personal antara kera dan manusia. Persahabatan dua makhluk dengan sejarah kelam pertikaian di masa lampau itu setahap demi setahap mulai dibangun dengan dasar ”percaya”. Namun, mereka mencapai perdamaian yang rapuh.

Persahabatan tersebut kemudian benar-benar hancur karena provokasi dari seekor kera bernama Koba. Koba digambarkan sebagai sosok provokator yang selalu penuh kecurigaan. Ia menebar kebencian kepada manusia. Dan ketika seluruh usahanya gagal, Koba pun menempuh cara licik dengan lontaran fitnah. Kekejaman fitnah itu pula yang kemudian memicu perang.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Budaya
Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Budaya
Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Seleb
Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Musik
Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

BrandzView
Profil Han Suk Kyu, Pemeran Teacher Kim di Drama Dr Romantic 2

Profil Han Suk Kyu, Pemeran Teacher Kim di Drama Dr Romantic 2

Seleb
Profil Lee Sung Kyung, Pemeran Cha Eun Jae di Drama Dr Romantic 2

Profil Lee Sung Kyung, Pemeran Cha Eun Jae di Drama Dr Romantic 2

Seleb
komentar di artikel lainnya
Close Ads X